Sudah Kenal Atau Baru Sebatas Menilai…

Ikat Ilmu Dengan Menuliskannya…

CENDERAMATA DARI NEGERI MANDELA

Posted by suradigorontalo on 19 April 2017

Pada Maret 2017 yang lalu menjadi sejarah bagi hidup saya karena bisa menginjakkan kaki pertama kalinya di benua Afrika untuk menghadiri konferensi internasional tentang layanan iklim bertajuk: The fifth International Conference on Climate Services (ICCS5) yang berlangsung di kota Cape Town, selama tiga hari. ICCS5 ini menyandingkan institusi, baik publik maupun swasta, organisasi maupun pribadi yang terkait dengan layanan iklim di seluruh dunia dan acara ini merupakan wujud kepanjangan tangan dari program Global Framework for Climate Services (GFCS) yang merupakan framework untuk menjembatani penyedia layanan iklim dengan penggunanya dan resmi bagian dari organisasi meteorologi dunia (WMO).

SAM_9219.JPG

Kegiatan ICCS5 yang bertemakan Inovasi dalam layanan iklim dan membangun kapasitas penyedia layanan

Serasa perjalanan yang melelahkan Jakarta-Cape Town selama 15 jam dengan maskapai Emirates terbayar sudah. Di acara tersebut, saya bertemu dengan banyak pakar dari berbagai disiplin keilmuwan dari berbagai benua: Eropa, Amerika, Australia, Asia dan Afrika tentunya. Bisa berdiskusi dengan Andrew Kruczkiewicz (ahlinya program CPT dari IRI Columbia University),  Angel Munoz (ahlinya layanan subseasonal‐to‐seasonal (S2S), Princeton University) merupakan kebahagiaan tersendiri. Juga berkesempatan berdialog dengan Ms. Erica Allis dari WMO (GFCS) hingga akhirnya bertukar fikiran dengan Ibu Lili dari Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Indonesia adalah kesempatan langka. Bahkan, beliau Bu Lili memperkenalkan dan menawarkan program pendanaan berlabel Sustainable Development Finance (SDF) untuk pembantu mendukung permasalahan dana terkait dampak perubahan iklim melalui kebijakan fiskal.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Bersama Andrew, pakar Climate Predictability Tool (CPT), salah satu tool yang dipakai dalam operasional iklim di BMKG

Seketika semangat saya membuncah, sambil sekelabatan teringat sayup sambutan Dr. Widada, Sestama BMKG pada suatu pembukaan acara bahwa porsi anggaran yang ada saat ini menjadi kendala terkait kebijakan BMKG untuk ber-inovasi. Anggaran yang ada sebagian besarnya tersedot untuk kebutuhan operasional yang rutin. Alhasil, perlu adanya sumber dana yang bisa mengucur deras dalam usaha untuk ber-inovasi yang tidak menutup kemungkinan pula menjalin kerja sama dengan swasta ‘public-private partnerships’. Ya, harapan untuk itu masih ada dan terbuka untuk mencapai jangkauan, ketepatan, ragam, manfaat, dan kecepatan layanan BMKG yang semakin unggul. Oiya, terkait pula dengan kerja sama dengan kawan internasional, sayapun akhirnya ditawari oleh Dr. Sukaina Bharwani dari Stockholm Environment Institute (SEI) yang berkantor pusat di U.K untuk mengagihkan kepakarannya ke penyedia layanan iklim di Indonesia agar layanan iklim yang efektif dan efisien menjangkau penggunanya.

Di hari terakhir pengembaraan saya di negeri Mandela ternyata tidak kalah menariknya, saya bertemu dengan Whasiel, sang pengemudi daring Uber. Pertemuan ini terjadi dikarenakan selama saya mengandalkan mode ojek mobil online Uber selama di sana. Uber tidak hanya fenomenal di Indonesia tapi juga di Afrika Selatan. Ternyata alangkah terkejutnya saya, beliau masih memiliki darah Indonesia berasal dari kakeknya yang dahulu kala menjadi salah satu generasi yang dibuang ke Afrika Selatan sebagai budak zaman penjajahan Belanda. Whasiel bahagia bisa bertemu lagi dengan orang Indonesia hingga mau mengantarkan kemana saya mau dengan tarif saudara, katanya. Sayapun memberikan baju batik sebagai penanda pertemanan kami.

Masjid tertua di Cape Town

Bersama Whasiel di depan Masjid Auwal, masjid tertua di Cape Town

Di hari terakhir sebelum kembali ke tanah air, saya diajak berkeliling Cape Town oleh Whasiel yang baik hati ini. Satu tempat yang menarik bagi saya adalah Boulder Visitor Center, tempat dimana penguin Afrika biasa berkumpul. Bercengkerama dalam kehangatan berkeluarga serta meninggalkan anak cucunya. Sehingga tempat ini mengingatkan kepada saya akan nasib satwa, khususnya penguin yang ikut terancam dampak perubahan iklim. Sebelum membahas lebih jauh perubahan iklim. Nah, sering kita mendengar dan membaca istilah variabilitas iklim dan juga perubahan iklim. Tebersit di hati apa yang membedakan keduanya. Bahkan di BMKG sendiri, terdapat bagian khusus yang menangani dua hal tersebut secara terpisah. Jadi begini, variabilitas iklim sifatnya reversible, membentuk osilasi ataupun siklus. Sedangkan perubahan iklim sifatnya one-directional, bersifat trend baik suhu maupun curah hujan (Huber dan Jay, 2001). Ketika berbicara tentang iklim yang berubah maka setidaknya ada satu dari empat elemen statistik perubahan yang bisa dilihat yakni: apakah 1). amplitudo, 2). rata-rata, 3). trend, ataupun 4). panjang gelombangnya.

4.jpg

Identifikasi perubahan iklim: 1). amplitudo, 2). rata-rata, 3). trend, 4). panjang gelombang

Dan sesungguhnya, isu kepunahan satwa akibat perubahan iklim tak kalah seksi dengan isu pilkada saat ini. Namun, belum banyak pembaca yang menyadari bahwa perubahan iklim bisa berimplikasi pada perubahan habitat yang pada gilirannya berdampak pada ketidakseimbangan jaring- jaring makanan, termasuk berpengaruhnya pada Sang pemuncak jaring- jaringnya yakni manusia.

Persepsi saat ini bahwa ilmuwan mensinyalir adanya migrasi satwa dikarenakan tidak mampunya mereka menyesuaikan perubahan suhu yang menyergah habitat asli mereka. Bahkan, ada beberapa jenis satwa yang telah menuju punah disebabkan oleh iklim yang telah berubah. Salah satunya adalah penguin di Afrika, yang sering salah jalur dan tidak menemukan sumber makanan utamanya ketika musim mencari plankton dan ikan tiba. Sehingga berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) terbaru, pada gilirannya jumlah penguin Afrika tinggal lima puluh ribuan saja sisanya.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Sekumpulan penguin Afrika (Spheniscus demersus), di Pantai Boulders di pinggiran Samudera Atlantik

Bagaimanapun juga, yang perlu diperhatikan adalah hubungan antara  iklim dengan satwa, yang pada akhirnya menyebabkan ketidakmampuan satwa untuk bertahan hidup sehingga harus bermigrasi ataupun paling buruknya adalah punah. Ditambah lagi dikarenakan aktivitas manusia di masa yang akan datang akan semakin berubah akan merubah habitat. Hal yang paling mengkhawatirkan adalah kepunahan ataupun migrasi. Satu satwa akan mempengaruhi satwa yang lain sehingga akan mempengaruhi lingkungan yang baru sehingga akan merubah rantai makanan.

Bagaimana dengan satwa di Indonesia? Disinyalir ikan Pesut Kalimantan sudah mengalaminya. Andai ini benar terjadi maka kita akan makin kesulitan menyebut lima saja nama ikan. Bayangkan, hal yang sangat menyedihkan bukan? 😦

Pada akhirnya, cenderamata berharga yang saya bawa bukanlah gantungan kunci, boneka Ndebele ataupun magnet kulkas semata.

20170303_140222.jpg

Boneka Ndebele yang dijajakan salah satu kios di Boulders Visitor Centre, Simon’s Town

20170303_140655.jpg

Magnet kulkas khas Afrika Selatan yang dipajang di kios cenderamata di Boulders Visitor Centre

Namun, cenderamata yang lebih bernilai berupa agih pengalaman terkait layanan iklim, membuka peluang kerja sama dengan institusi lain dan peluang sumber dana untuk kemajuan dan keberlangsungan kehidupan masyarakat Indonesia dan lingkungannya baik flora maupun faunanya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai lembaga penyedia data informasi keikliman siap bahu-membahu dalam penerapannya. Iklim Memberlangsungkan Indonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: