Sudah Kenal Atau Baru Sebatas Menilai…

Ikat Ilmu Dengan Menuliskannya…

In front of ITC Hotel

Posted by suradigorontalo on 27 January 2013

In front of ITC Hotel

That’s the hotel where we stay for Tailor Made Training in ‘Climate Change in relation with Food Security in Indonesia’ at the expense of StuNed Nuffic Neso from January 19, 2013 until Pebruary 17, 2013.

Posted in ClimateMinded, Pribadi | Leave a Comment »

Pengolahan Data Satelit MTSAT

Posted by suradigorontalo on 4 August 2012

Pengolahan Data Satelit MTSAT

 

Teori Singkat

 

DR. Verner E. Suomi, Bapak Satelit Meteorologi. MTSAT adalah satelit yang peluncurannya mempunyai 2 tujuan yaitu sebagai satelit cuaca dan satelit komunikasi.

 

MTSAT-1R, diluncurkan 26 Februari 2005, pada koordinat 140°BT. Sedangkan MTSAT-2 diluncurkan pada 18 Februari 2006, pada koordinat 145°BT. MTSAT-2 menggantikan misi satelit MTSAT-1R yang telah beroperasi sejak 5 tahun sekitar tahun 2010.

 

Penambahan notasi R pada MTSAT-1R menunjukkan satelit ini     sebagai pengganti MTSAT-1 yang gagal mengorbit.

 

Imager pada MTSAT:

  • IR1-IR2, 10-12µm, infra merah thermal yg menunjukkan suhu muka tanah, muka laut atau puncak awan di atas keduanya.
  • IR3, 6,5-7 µm, sensor uap air, menunjukkan kandungan uap air di lapisan atmosfer menengah.
  • IR4, 3,5-4 µm, sensor infra merah gelombang pendek, perpaduan dengan infra merah untuk deteksi kabut pada malam hari.

 

Urutan Langkah Pengolahan

 

Langkah Pertama, Mengumpulkan data pgm.gz untuk kanal IR1, IR2, IR3 dan IR4 untuk tulisan ini diambil untuk tanggal 15 Februari 2010 per-jam.


Langkah Kedua, data kanal IR1 di dump untuk mendapatkan satu ctl dan dat untuk data 24 jam.


 

Langkah Ketiga, menjalankan script HovMoller sehingga diperoleh keluaran Temperatur Black Body Rata- rata. Hasil TBB/ Temperatur Black Body (satuan Kelvin) di atas wilayah 0,6384LU dan 122,85BT per-jam pada tanggal 15 Februari 2010 ditunjukkan gambar di bawah ini:

 


 

Sedangkan TBB d atas sepanjang bujur 122,85BT adalah seperti berikut di bawah ini:


 

Sedangkan hasil HovMoller langkah ketiga adalah sebagai berikut:


 

 

Langkah Keempat, melakukan dump data kanal IR1, IR2, IR3 dan IR4 kemudian dibuat plot dan grafik HovMoller tiap jam per-kanal. Berikut ini adalah plot HovMoller Penampang Lintang terhadap Waktu dengan pusat di lintang 0,6384LU yang merupakan posisi bandar udara Jalaluddin Gorontalo untuk tiap- tiap kanal sbb.:

 


 

Di bawah ini adalah penampang Bujur Temperatur Black Body terhadap waktu dengan pusat di bujur 122,8519BT yang merupakan lokasi bandara Jalaludin Gorontalo:


 

Untuk mengetahui evolusi TBB maka dibuat pula plot HovMoller dengan format cross-section lintang terhadap waktu sbb.;


 

Langkah terakhir adalah analisis, dari Plot HovMoller bisa diperoleh informasi tren kondisi meteorologi dari sudut pandang penampang lintang dan atau bujur terhadap waktu.

 

Nilai TBB yang lebih besar khususnya di sebelah timur wilayah data yang dipilih dikarenakan berada di atas perairan.

 

Semoga bermanfaat. Aamiin.

Posted in Teknik Kebumian | Leave a Comment »

Analisis Hidrologi – Daerah Aliran Sungai

Posted by suradigorontalo on 13 December 2010

Watershed Modeling System (WMS) Daerah Aliran Sungai Limboto Gorontalo

Oleh   :

S U R A D I

Forecaster BMKG Prov. Gorontalo


1.        PENDAHULUAN

DAS ( Daerah Aliran Sungai ) adalah padanan kata drainage area, drainage basin atau river basin. Batas DAS dirupakan oleh garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau lahan meninggi, yang memisahkan sistem aliran yang satu dengan sistem aliran yang lain di sebelahnya. Atas dasar pengertian tersebut di atas maka secara teori semua kawasan darat habis terbagi menjadi sejumlah DAS. Suatu DAS terdiri atas dua bagian utama, yaitu daerah tadahan (catchment area) yang membentuk daerah hulu atau ”daerah kepala sungai” dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadahan. Daerah penyaluran air dapat dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah tengah dan daerah hilir.

Daerah tadahan merupakan daerah sumber air bagi DAS yang bersangkutan, sedangkan daerah penyaluran air berfungsi menyalurkan air tanah (excess water) dari sumber air ke daerah penampungan air, yang berada di sebelah bawah DAS. Daerah penampungan air dapat berupa danau atau laut. Dilihat dari segi hidrologi, DAS merupakan suatu kesatuan hidrologi yang bulat dan utuh. DAS menjadi bagian dari sistem darat.

2.            METODE

Watershed Modeling System merupakan sebuah aplikasi komputer berbasis data grid dimana di dalamnya terdapat aplikasi Gridded Surface Subsurface Hydrologic Analysis (GSSHA). GSSHA mampu menghitung komponen hidrologi baik di permukaan tanah maupun bawah permukaan, serta interaksi antar keduanya. Komponen permukaan tanah yaitu, distribusi hujan (presipitasi), volume air di permukaan tanah dan saluran setelah simulasi berakhir, evapotranspirasi potensial dan aktual, volume discharge, serta intersepsi. Komponen di bawah permukaan meliputi volume airtanah, volume air di zona tidak jenuh, serta imbuhan airtanah. Untuk interaksi antar permukaan dan bawah permukaan tanah, komponen yang dapat dihasilkan adalah infiltrasi, eksfiltrasi dan inflow ke saluran arah lateral.

Data yang dibutuhkan GSSHA adalah data yang sifatnya kontinu, baik untuk durasi yang pendek maupun untuk durasi waktu yang panjang. Selain itu, selama proses simulasi program akan menampilkan hasil perhitungan Evapotranspirasi potensial dan aktual, infiltrasi dan discharge sehingga sifatnya dinamis dengan time step yang kecil.

Penggunaan program komputer berbasis Gridded Surface Subsurface Hydrologic Analysis (GSSHA) digunakan sebagai instrumen untuk menganalisis data dan memperoleh hasil akhirnya. Dalam program komputer ini, data awal yang dikehendaki adalah topografi obyek penelitian. File topografi dalam bentuk format Digital Elevation Model (.dem).

Kontur topografi diperoleh dari SRTM (Shuttle Radar Topography Mission) dengan menggunakan aplikasi komputer Global Mapper.

Dalam tulisan kali ini akan dilakukan pemetaan DAS di wilayah Kota Gorontalo dan kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo yang dikenal sebagai DAS Limboto atau DAS Bone Bolango. Peta lokasi DAS  sebagai berikut :

das_limbotoGambar 1. Wilayah DAS yang akan dihitung ditandai oleh lingkaran.

peta_geo_gtoGambar 2. Peta Geologi DAS Bone Bolango

 

Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Koppen dan Schdmit-Ferguson, DAS Limboto mempunyai iklim yang bervariasi yaitu Afa, Ama dan Awa dengan curah hujan tahunan berkisar antara 1.722 mm s/d 2.722 mm, temperatur maksimum 37oC dan minimum 23oC selanjutnya, secara garis besar penggunaan lahan di DAS Limboto dapat dikelompokkan menjadi 11 kelompok yaitu sebagai berikut :

guna_lahan

Gambar 3. Tata Guna Lahan DAS Gorontalo

3.            HASIL

Selanjutnya proses mengambil data topografi dari server sebagai berikut :

global_mapper

Gambar 4. Ambil Data DEM Gorontalo dengan SRTM Worldwide Elevation Data. Isi West:122.90, East:123.40, North:0.0, South:o.45

Setelah data topografi diperoleh, hasilnya sebagai berikut :

data DEM DAS GorontaloGambar 5. Data DEM DAS Limboto

Hasil di atas diekspor menjadi data dem dengan ektensi file *.dem, yang selanjutnya data tersebut diolah dengan menggunakan aplikasi WMS 8. Berikut adalah hasil pengolahan  data *.dem yang diolah menjadi peta kontur ketinggian seperti terlihat pada gambar 6 berikut :

peta kontur tinggi

Gambar 6. Peta Kontur Ketinggian DAS Limboto dan sekitarnya

Gambar tersebut dibuat peta ketinggian dengan gradasi warna dimana semakin biru penampakan citra menandakan ketinggian tempat semakin tinggi. Sedangkan semakin merah penampakan citra berarti tempat tersebut adalah dataran rendah. Seperti terlihat pada gambar 7 di bawah :

kontur ketinggian

Gambar 7. Gradasi Warna Peta Ketinggian DAS Limboto

Aliran sungai Bolango terlihat daerah hulu bersumber di sekitar pegunungan Bolango kabupaten Bone Bolango ( DAS Limboto ) dan aliran bermuara di Laut Selatan Gorontalo. Dipilih titik – titik seperti di lingkaran putih sbb. :

dot batas DAS

Gambar 8. Penentuan Batas DAS dengan Menentukan Titik di hulu dan hilir (muara) DAS

Diperoleh hasil sebagai berikut :

Gambar 9. Batas DAS Titik di hulu dan hilir (muara) DAS Limboto

Untuk mengetahui karakteristik dari DAS dapat dilakukan pengaturan pada aplikasi WMS, dan dalam hal ini dilakukan setting untuk mengetahui luasan dari dari daerah aliran sungai, panjang DAS, kemiringan dari DAS, rata-rata elevasi DAS serta untuk mengetahui karakteristik lain juga dilakukan setting seperti rata-rata presipitasi di sekitar DAS dan nilai curve number-nya dan koefisien runoff-nya. Klik di hulu, percabangan, dan hilir sungai untuk mendefinisikan DAS beserta Aliran Sungai-nya.

Setting Karakteristik DAS

Gambar 9. Pengklasifikasian parameter DAS Limboto

Diperoleh hasil sebagai berikut :

data basin

Gambar 10. Hasil Pengklasifikasian parameter DAS Limboto

Selanjutnya didapat hitungan data-data basin (DAS)

data basin limboto

Gambar 11. Pemilihan parameter keluaran DAS Limboto

nilai data DAS LimbotoGambar 12. Nilai keluaran parameter- parameter DAS Limboto

Diperoleh nilai : CN                          = 0,0

P                             = 0,0 in

RC                           = 0,0

A (luas)                 = 218.82 km2

BS                           = 0.2621 m/m

AOFD                    = 1988,76 m

L                              = 21525,56 m

P                             = 113231 m

AVEL                      = 365,52 m

Dimana :

  1. CN adalah Curve Number
  2. P adalah Basin Average Precipitation yaitu rata – rata hujan di areal DAS.
  3. RC adalah Runoff Coefficient, yaitu koefisien limpasan.
  4. A adalah luas DAS.
  5. BS adalah Basin Slopes yaitu kelerangan dari DAS.
  6. AOFD adalah Average Overland Flow.
  7. L adalah Basin Length yaitu panjang dari DAS.
  8. P adalah Perimeter (Keliling Basah) yang merupakan bagian parameter penampang aliran yang bersentuhan dengan dasar dinding saluran.
  9. AVEL adalah Rata – rata ketinggian DAS.

Selanjutnya tampilkan data-data dalam bentuk grid :

grid nilai

Gambar 13. Gridded Setting Nilai keluaran parameter- parameter DAS Limboto

Dari gambar di bawah didapatkan informasi per grid sbb.:

griddedGambar 14. Gridded Value keluaran parameter- parameter DAS Limboto

4. ANALISIS

Dari hasil pengolah data DEM untuk untuk DAS Bone Bolango / Limboto didapatkan informasi bahwa luas dari daerah aliran sungai seluas 218.82 km2. DAS Bone Bolango / Limboto termasuk DAS yang terjal. Dimana dalam luasan tersebut terdapat beberapa sungai kecil yang bersumber dari bukit-bukit di sekitar Pegunungan Bone Bolango dan alirannya mengalir dan menyatu dengan sungai utama yang bermuara di Laut Selatan Gorontalo. Panjang DAS Bone Bolango  sekitar 21525,56 m atau 21,5256 km.

5.            KESIMPULAN

  1. CN adalah Curve Number, bernilai nol berarti software ini tidak bisa / belum bisa me-resolve kondisi relief permukaan dikarenakan belum adanya input data.
  2. P adalah Basin Average Precipitation yaitu rata – rata hujan di areal DAS. Bernilai nol mengindikasikan bahwa nilai P tidak di resolve oleh software dikarenakan belum adanya input data.
  3. RC adalah Runoff Coefficient, yaitu koefisien limpasan yang juga bernilai nol. dikarenakan belum adanya input data.
  4. A adalah luas DAS. Luas DAS Limboto didapatkan nilai 218.82 km2 .
  5. BS adalah Basin Slopes yaitu kelerangan dari DAS. Bernilai 0,2621 ( 26,21 % ) berarti kategori terjal.
  6. AOFD adalah Average Overland Flow. Nilai 1988, 76 m.
  7. L adalah Basin Length yaitu panjang dari DAS.
  8. P adalah Perimeter (Keliling Basah) yang merupakan bagian parameter penampang aliran yang bersentuhan dengan dasar dinding saluran. Bernilai panjang 113231 m atau 113,231 km.
  9. AVEL adalah Rata – rata ketinggian DAS. Rata – rata ketinggian DAS Limboto adalah 365,52 m.
  10. Dengan memasukkan input data yang terkait ( misal data hujan) maka akan diperoleh nilai unsur DAS yang diperlukan.
  11. Dengan model ini bisa diperoleh informasi data DAS yang diperlukan dengan data input yang terbatas yang ke depannya bisa digunakan sebagai decision support system terkait kejadian banjir maupun analisis hidrologi lainnya.

oooOOOooo

Posted in Teknik Kebumian | Tagged: | 1 Comment »

Analisis Kerentanan Terhadap Perubahan Iklim

Posted by suradigorontalo on 5 September 2010

Analisis Kerentanan Terhadap Bencana Banjir di Provinsi Gorontalo

1.  Pendahuluan

Terlepas apakah iklim sekarang ini sudah berubah atau baru akan berubah adalah pembahasan tersendiri di kala ada 2 ( dua ) kubu yang dengan kekuatannya masing- masing memiliki hujjah, kubu kontra mengatakan bahwa perubahan iklim belumlah terjadi, yang terjadi saat ini adalah fluktuasi iklim, namun kejadian- kejadian bencana kemeteorologian secara spasial maupun temporal cenderung meningkat bahkan ekstrim seperti yang sedang dialami China dengan korban banjir sudah mencapai 700 jiwa lebih meninggal.

Upaya adaptasi perubahan iklim tidak akan memperoleh hasil yang efektif jika tidak  diperhitungan mengenai seberapa besar perkiraan dampak yang ditimbulkan. Kita tidak tahu perbedaan tingkat kerentanan dampak di masing-masing wilayah. Untuk itu, diperlukan suatu peta yang memberikan informasi kerentanan wilayah terhadap dampak perubahan iklim yang akan terjadi di masa mendatang. Peta ini akan sangat mudah untuk dipahami oleh berbagai kalangan sehingga dapat menjadi referensi dalam mengupayakan adaptasi perubahan iklim baik dalam bentuk fisik maupun yang lainnya. Peta kerentanan dampak perubahan iklim ini diperoleh melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah memproyeksikan beberapa parameter yang memiliki sifat variable (berubah) terhadap waktu dengan menggunakan persamaan model tertentu. Setelah terbentuk peta-peta spasial dari data-data yang sudah terkumpul selanjutnya di tahap akhir adalah melakukan metode overlay (tumpang susun). Metode overlay ini dapat dilakukan dengan bantuan perangkat-perangkat lunak yang berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Dengan demikian, beberapa formula digunakan untuk memperoleh hasil akhir berupa peta kerentanan perubahan iklim.


Gambar 1. Metode Overlay (Susandi, et al,1999)

Hingga saat ini, kegiatan adaptasi difokuskan pada area-area yang dianggap rentan terhadap perubahan iklim yaitu daerah pantai, sumber daya air, pertanian, kesehatan manusia dan infrastruktur.

2.   Data dan Metodologi

Data yang digunakan untuk mengetahui sebaran spasial potensi hazard, dilakukan pengelompokan data di tiap-tiap kabupaten, yang akan diolah menggunakan perangkat lunak GIS kemudian ditentukan sebagai indeks hazard (bahaya), data-data tersebut yaitu :

  1. Data Jumlah Penduduk
  2. Data Land Use
  3. Data Curah Hujan
  4. Data Temperatur

    Kemudian sebagai indeks adaptive capacity, yaitu digunakan data :

  5. Tingkat Pendidikan
  6. Tingkat Kesehatan
  7. HDI

Indeks kerentanan ditentukan dengan menggunakan persamaan :

IK (Indeks Kerentanan) = IH (Hazard Indeks) – IA (Adaptive Indeks)


3. Kondisi Geografis Gorontalo

Sejak 16 Februari 2001 lalu, daerah ini resmi sudah menjadi provinsi menjadi provinsi termuda di negeri ini. Provinsi Gorontalo terletak di Pulau Sulawesi bagian Utara meliputi 1 kota dan 4 kabupaten, 46 kecamatan, 385 Desa dan 65 Kelurahan. Letak geografi berada di antara 121,23o – 123,43o Bujur Timur dan 0,19o – 1,15o Lintang Utara, mempunyai luas 12.215,44 Km2 yaitu Kota Gorontalo 64,80 Km2 (0.53 %), Kabupaten Gorontalo 3.354,67 Km2 (28,05 %), Kabupaten Boalemo 2.567,36 Km2 (18,04 %), Kabupaten Bone Bolango 1.984,31 Km2 (16,25%) dan Kabupaten Pohuwato 4.244,31Km2 (36,77%) dengan batas-batas wilayah :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Buol dan Toli Toli (Sulawesi Tengah dan Laut Sulawesi).
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Parigi Moutong (Sulawesi Tengah).
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara).
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Tomini.

Keunggulan posisi geografisnya sangat menguntungkan Gorontalo, yakni berada di poros pertumbuhan ekonomi, antara dua Kawasan Ekonomi Terpadu (Kapet) Batui (Sulawesi Tengah) dan Manado-Bitung (Sulawesi Utara).


Gambar 2. Peta Administratif Provinsi Gorontalo

3.1    Penduduk

Jumlah penduduk Provinsi Gorontalo tahun 2006 sebanyak 904.533 jiwa yang terdiri dari laki-laki 455.150 jiwa dan perempuan 449.383 jiwa. Dilihat dari sebarannya, jumlah penduduk terbesar berada di Kabupaten Gorontalo sebesar 415.675 jiwa, Kota Gorontalo 150.005 jiwa, kabupaten Boalemo 109.869 jiwa, Kabupaten Bone Bolango 122.832 jiwa dan Kabupaten Pohuwato 106.152 jiwa. Sedangkan dilihat dari tingkat kepadatan penduduk, Kota Gorontalo memiliki kepadatan penduduk paling tinggi yaitu 2.315 jiwa/km2. Diikuti Kabupaten Gorontalo 121 jiwa/km2 dan Kabupaten Bone Bolango 61 jiwa/km2, Kabupaten Boalemo 43 jiwa /km2, dan Kabupaten Pohuwato 25 jiwa/km2 .

Sedangkan Keluarga Miskin di Provinsi Gorontalo adalah sebanyak 293.520 jiwa (31,97%) dan tertinggi terdapat di Kabupaten Gorontalo (126.566 KKM / 43 % dari seluruh penduduk miskin yang ada di provinsi Gorontalo). Seleng-kapnya dapat dilihat pada gambar berikut ini :


Gambar 3. Perbandingan Jumlah Penduduk Miskin Gorontalo

3.2 Kondisi Iklim

Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Koppen dalam Schdmit dan Ferguson, Provinsi Gorontalo mempunyai iklim yang bervariasi yaitu Afa, Ama dan Awa dengan curah hujan tahunan berkisar antara 1.722 mm s/d 2.722 mm, temperatur maksimum 37oC dan minimum 23oC. Wilayah Provinsi Gorontalo memiliki pola hujan ekuatorial dimana puncak hujan terjadi 2 (dua) kali dalam setahun seperti ditunjukkan peta di bawah ini:


Gambar 4. Peta Pewilayahan Pola Hujan Gorontalo

3.3 Kondisi Topografi dan Tutupan Lahan

Permukaan tanah di Gorontalo sebagian besar adalah perbukitan. Oleh karenanya, Gorontalo memiliki banyak gunung dengan ketinggian yang berbeda. Gunung Tabongo yang terletak di Kabupaten Boalemo merupakan gunung yang tertinggi dengan ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut. Sedangkan gunung Litu-Litu yang terletak di Kabupaten Gorontalo adalah gunung yang terendah dengan ketinggian 884 dari permukaan laut. Keadaan topografi didominasi oleh kemiringan 15-30o (45-46%) dengan jenis tanah yang sering mengalami erosi. Kondisi dan struktur utama geologi berpotensi menimbulkan gerakan tektonik, menyebabkan rawan bencana alam seperti gempa bumi, erosi, abrasi, gelombang pasang, pendangkalan dan banjir. Seperti ditunjukkan gambar di bawah ini :


Gambar 5. Peta Tutupan Lahan Gorontalo

4. Hasil dan Analisis

Dari data yang telah dilakukan pengolahan terlihat pada gambar di bawah :



Gambar 6. Panel Kiri: Adaptiv Capacity. Panel Kanan: Indeks Komponen Hazard

Indeks kerentanan merupakan indeks yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pada daerah tersebut terjadi kerentanan akibat faktor dampak perubahan iklim. Dari pengolahan data wilayah Provinsi Gorontalo, terlihat di bawah ini :


Gambar 7. Peta Indeks Distribusi Kerentanan

Dari peta di atas terlihat wilayah Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo merupakan wilayah yang memilki tingkat kerentanan tertinggi. Sedangkan faktor hazard di kedua wilayah ini relative lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, seperti jumlah curah hujan yang lebih tinggi dan penggunaan tata guna lahan yang cukup besar namun yang tidak kalah besar adalah Peningkatan jumlah penduduk yang meningkat pesat dikarenakan kedua daerah ini merupakan pusat kegiatan industri dan pusat pemerintahan sehingga menjadi daerah tujuan migrasi penduduk. Kapasitas adaptasi pada wilayah ini, khususnya pada sektor pendidikan dan kesehatan memang relative tinggi dibandingkan dengan wilayah lain namun apabila dibandingkan dengan komponen hazard-nya masih rendah. Perlu diketahui bahwa bencana kemeteorologian yang sering melanda wilayah Gorontalo adalah bencana banjir yang biasanya terjadi pada akhir tahun hingga awal tahun tiap tahunnya. Pada waktu mendatang pada daerah ini tentu memiliki potensi terjadinya bencana banjir. Adaptasi yang dapat dilakukan seperti konservasi wilayah danau Limboto yang merupakan wilayah penampung air utama di wilayah tersebut juga pembangunan sistem drainase yang baik karena unsur curah hujan yang relative besar dan yang tidak kalah penting perlindungan wilayah hutan di daerah hulu yang menjadi cathment area.

Referensi : Diolah dari berbagai sumber,


Posted in Teknik Kebumian | Tagged: | Leave a Comment »

Sejarah Delphi

Posted by suradigorontalo on 16 March 2009


 


IDE Delphi 7

 

 

Sejarah Bahasa Pemrograman Delphi

 

Delphi…merupakan salah satu jenis bahasa pemrograman yang fleksibel penggunaannya untuk mengembangkan aplikasi program under Windows dengan tampilan yang smooth seperti pada Sistem Operasi Windows itu sendiri..

Mendengar kosakata Delphi mungkin orang sudah tidak asing dengan nama ini yang memang menggunakan kosakata bahasa Yunani. Konon dalam sejarah mitologi Yunani, Delphi adalah kuil yang dibangun untuk menyembah Dewa Apollo, salah satu Dewa yang disegani oleh orang-orang Yunani selain Dewa-Dewa lain seperti Jupiter, Titan dan lain sebagainya.

Borland sebagai pengembang perangkat lunak yang sudah ada sejak era 1980’an menggunakan ikon dan nama Delphi sebagai salah satu perangkat lunak pembantu pemrograman untuk membuat program yang sudah mengarah ke Pemrograman Yang Berorientasi pada Objek atau dikenal dengan istilah OOP (Object Oriented Programming).

Semenjak zaman produk-produk “turbo” dengan Turbo Pascal, Turbo/Borland C/C++, Turbo Assembler
belasan tahun silam hingga RAD Tool Delphi, C++ Builder saat ini. Kesemua jajaran produk borland tersebut pernah berjaya sebagai produk-produk unggulan di masanya.

 

Perjalanan Panjang Delphi

 

Mengenal Delphi berarti kita harus melakukan perjalanan ulang (flash-back), dimana Delphi sendiri sudah melalui perjalanan panjang nan berliku-liku dan ujian dalam sejarahnya hingga dapat hadir dan dipakai hingga saat ini.

Pertama, dimulai dengan ide brilian Prof. Niclaus Wirth yang mengemukakan paparan tentang Struktur Data dan Algoritma (Algorthm and Data Structure). Prof. Niklaus Wirth menerjemahkan paparan ini yang kemudian dikristalisasi ke dalam bahasa yang populer dan digunakan pertama kalinya sebagai bahasa yang berorientasi pada hal-hal yang Science dan Ilmiah yaitu Pascal. Pascal sendiri kemudian distandarisasi ke dalam ANSI PASCAL (Pascal umum) oleh badan standarisasi Amerika Serikat (ANSI).

Kemudian, 20 Nopember 1983, Borland melakukan riset untuk menerjemahkan ide dari kristalisasi ANSI Pascal (Pascal yang distandarisasi) yang kemudian menelurkan kompiler Pascal ke dalam pengembangan perangkat lunaknya yaitu Turbo Pascal 1.0. Turbo Pascal 1.0 berjalan pada sistem operasi PC/MS DOS dengan keterabatasan memory yang saat itu bisa berjalan pada ukuran 1 Mbyte saja.

Pada 17 April 1984, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal 1.0 menjadi Turbo Pascal 2.0.

Pada 17 September 1986, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal 2.0 menjadi Turbo Pascal 3.0.

Pada 20 Nopember 1987, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal 3.0 menjadi Turbo Pascal 4.0

Pada 24 Agustus 1988, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal 4.0 menjadi Turbo Pascal 5.0

Pada 2 Mei 1989, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal 5.0 menjadi Turbo Pascal 5.5

Pada 23 Oktober 1990, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal 5.5 menjadi Turbo Pascal 6.0

Pada 13 Pebruari 1991, Borland melakukan migrasi perangkat lunaknya ke dalam platform sistem operasi Microsoft Windows dengan menelurkan produk Turbo Pascal for Windows 1.0.

Pada 8 Juni 1992, Borland merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal for Windows 1.0 menjadi Turbo Pascal for Windows 1.5

Pada 27 Oktober 1992, Borland melakukan revitalisasi Turbo Pascal 6.0 dan mengarahkan platform perangkat lunaknya menuju pemrograman berorientasi pada objek dengan menelurkan produk Borland Pascal 7.0 (With Objects).

Pada 14 Pebruari 1995, bertepatan dengan hari Valentine, untuk pertama kalinya dalam sejarah Borland menelurkan produk terbarunya, yang merupakan gabungan pengembangan Turbo Pascal for Windows 1.5 dan Borland Pascal 7.0 (With Objects) dengan menerlurkan Borland Delphi for Windows 95 atau Borland Delphi 1.0. Delphi versi ini berjalan pada Windows 3.1 atau Windows 16 bit.

Pada 10 Pebruari 1996, setahun setelah kelahiran Delphi 1.0, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak ini dan menelurkan produk Borland Delphi 2.0. Delphi versi ini berjalan pada Windows 95 atau Delphi 32 bit.

Tanggal 5 Agustus 1997, Borland kembali merevisi ulang Delphi 2.0 dan menelurkan produk Borland Delphi 3.0. Delphi versi ini berjalan pada Windows 95 ke atas dengan tambahan fitu rinternet atau web.

Pada 17 Juni 1998, Borland kembali merevisi ulang Delphi 3.0 dan menelurkan produk Borland Delphi 4.0.

Pada 10 Agustus 1999, Borland kembali merevisi ulang Delphi 4.0 dan menelurkan produk Borland Delphi 5.0.

Pada 21 Mei 2001, Borland kembali merevisi ulang Delphi 5.0 dan menelurkan produk Borland Delphi 6.0.

Pada 9 Agustus 2002, Borland kembali merevisi ulang Delphi 6.0 dan menelurkan produk Borland Delphi 7.0.

Pada 22 Desember 2003 bertepatan dengan The Mother Day alias Hari Ibu Nasional, Borland melakukan migrasi untuk memindahkan platform Delphi ke arah pemrograman .NeT (dot NET) dengan menelurkan produk Borland Delphi 8.0 for .NET.

Pada 12 Oktober 2004, Borland menggabungkan pengembangan perangkat lunak C# dan Delphi ke dalam satu kendali Integrated Develompment and Environment (IDE) dengan menelurkan produk Borland Delphi 2005.

Pada 10 Oktober 2005, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunakn Delphi 2005 ke dalam perangkat lunak baru Borland Delphi Studio 2006.

Semua info sejarah ini diambil dari History of Delphi.

 

Terimakasih. Salam.

Posted in Program | Tagged: | Leave a Comment »

Applications for Australia Awards Scholarships are Now Open – Australian Embassy

Posted by suradigorontalo on 1 February 2014

http://www.indonesia.embassy.gov.au/jakt/MR14_002.html

Posted from WordPress for Android

Posted in Pribadi | Leave a Comment »

The relative dangers of drugs: What the science says

Posted by suradigorontalo on 13 October 2013

LifeMusicFun! | Love and Play EVERY Day!

The relative dangers of drugs: What the science says

Drug Chart

The relative dangers of drugs- What the science says

Photo by h.koppdelaney

Humans indulge in activities that alter both the content and the experience of their own consciousness. Drugs are a means for achieving a number of particular, often recreational, changes in conscious experience. However, drugs are also a large contributor to, and facilitator of, human suffering and health problems. The best health advice anyone can give to most people most of the time regarding recreational drug use is this: “Do not use drugs”. Many people however, including me, do not find this advice particularly attractive, or even sensible. Assuming that a person wants to enjoy the mind-altering effects of psychoactive substances, two questions follows: which drugs are dangerous to use? And, more importantly – how can one know which drugs are more dangerous than others? The answer to both questions, of course, can be found through the illuminating lens…

View original post 1,279 more words

Posted in Pribadi | 3 Comments »

Tenant and Landlord

Posted by suradigorontalo on 13 September 2013

MBC Written

“Who goes there?” my landlord questioned playfully, hiding what was most likely minor annoyance at being interrupted. It was ten o’clock at night on a Tuesday and as he stood in the door I could faintly hear the TV from upstairs.

“I’m sorry, Mister B!” I replied, feeling like a dumb child. “I seemed to have locked myself out!” And in almost the same breath: “Also, the garage door is jammed.”

He then hung his head, feigning a more annoyed response with a sigh that bore both real and comic distress; a reaction that came with the temperance that only a patient father of three could have mastered, imaginably through much practice.

“Let’s go take a look”, he said, or something to that effect, and then crossed the threshold of the relatively clean doorway onto the porch in ankle socks soon to be sullied by the outer elements. The wearer…

View original post 726 more words

Posted in Pribadi | Leave a Comment »

Dissecting a Climate Change Calamity

Posted by suradigorontalo on 18 August 2013

Inform The Pundits!

How does an “unprecendented” climate change catastrophe happen? Let’s see…

Three weeks ago, 7/23/2013, livescience.com shocked the world by reporting that a lake formed at the North Pole.It was in a small 214-word news brief.

The next day Canada.com – Canada’s largest English language newspaper service – picked up on the story. They took it to the next level. They added a “stunning” before/after display and a time-lapse video showing the “arctic winter turning to summer”.

Within two days it went viral. CBS News, MS-NBC, USA Today, Fox News, The Huffington Post, The Atlantic Wire and the UK’s Sky News and Orange News all picked up the story.
Even The Colbert Report got in on the act.

Each spun their version a little different, pinning it on global warming without validation.

Media Made Catastrophe

The summer ice is melting away at unprecedented rates…

View original post 655 more words

Posted in Pribadi | Leave a Comment »

Hari Pertama

Posted by suradigorontalo on 15 July 2013

image

image

Hari ini, Senin 15 Juli 2013, adalah hari pertama sy mengikuti Pre-Departure Training penerima beasiswa AAS (Australian Awards Scholarships) untuk masa 3 bulan (3 monthers).
To be continued for the next update…

Dikirim dari WordPress untuk HP Android Suradigorontalo

Posted in Pribadi | Leave a Comment »

SMPK Manual di Jambi

Posted by suradigorontalo on 10 July 2013

Read the rest of this entry »

Posted in ClimateMinded | Leave a Comment »

Mid-latitude tree-rings Evidence

Posted by suradigorontalo on 1 August 2012

http://www.newscientist.com/mobile/

Posted in Pribadi | Leave a Comment »

Kata-kata Bijak yang Koplak!

Posted by suradigorontalo on 28 May 2012


Hal yang paling sulit dari banjir informasi di abad informasi, adalah menyaringnya…

Kemampuan yang paling hebat, dan juga paling mengerikan dari para filsuf, sastrawan, dan penulis amatiran (seperti saya), adalah merangkai kata-kata. Kemampuan persuasi, yang bisa membuat hal-hal yang sebenarnya koplak, terlihat bijak. Suatu hal-hal yang jelas salah pun, akan bisa terlihat luar biasa benar, luar biasa masuk akal, lengkap dengan argumen yang indah dan berbunga-bunga, yang kedengarannya muncul dari seorang bijak berjanggut yang sedang bersemedi di bawah pohon, lengkap dengan kicauan burung di latar belakang.

Kata-kata bijak berikut ini, saat pertama anda membacanya, anda mungkin akan manggut-manggut setuju, hati anda tersentuh, bahkan mata anda akan berkaca-kaca sambil menghela napas panjang sambil membatin: ‘iya juga yaa..’ Benarkah itu bijak? Yuk kita kritisi..

 “Kita tidak perlu menghakimi keburukan orang lain. Biarlah itu urusan dia dengan Tuhannya. Hanya Tuhan yang tahu mana yang paling benar. Hanya Tuhan lah yang berhak menghakimi, di akhirat kelak..”

Wow, wow, wow, tunggu dulu.. Jika saja hanya Tuhan yang berhak menghakimi, mari kita bubarkan semua lembaga peradilan, karena manusia tidak berhak menghakimi bukan? Mau orang korupsi, mencuri, menjadi gay dan lesbian, menghina agama, bahkan membunuh orang lain, biarkan saja. Toh kita tidak berhak menghakimi orang lain kan? Hanya Tuhan yang berhak.  Jadi jika ada polisi yang coba mendenda kita karena buang sampah atau merokok sembarangan di Singapura, tampar saja si sok tahu itu, dan katakan: “hanya Tuhan yang berhak menghakimi saya!!” Jika kita hanya membiarkan Tuhan yang mengadili semua keburukan-keburukan manusia di dunia, kita tidak perlu hukum lagi, dan mari kita kembali ke zaman batu (bahkan manusia zaman batu pun punya peraturan). Atau kita ikuti saja kata-kata teman saya: “Lemah teles, Gusti Alloh seng mbales..”

“Kenapa kita ribut-ribut masalah yang sepele sih? Pornografi diributin, penulis buku yang mempromosikan lesbi dihalangin.. Lady Gaga diributin.. Mendingan urusin tuh koruptor, mereka yang lebih berbahaya bagi bangsa kita ini..”

Weks.. Ini sih sama saja dengan: “Ngapain kita tangkap orang yang nyolong sandal, tuh yang maling motor aja dikejar..”. Lha perbuatan buruk, besar atau kecil, tetap harus dihalangi. Jika orang tersebut menentang pornografi, bukan berarti dia diam saja terhadap koruptor kan? Bukankah lebih baik kita menjaga dari keduanya. Katakan: say no to pornografi dan korupsi! Dua-duanya, menurut saya, cepat atau lambat, akan menghancurkan negara ini. bahkan masyarakat barat sendiri pun cukup resah dengan pornografi, koq malah kita mendukungnya?

“Tuhan itu maha kuasa, maha agung, maha besar. Jadi ga perlu dibela. Jika kalian membentuk gerakan untuk membela agama, itu sama saja dengan kalian melecehkan kekuasaan dan kekuatan Tuhan. Tuhan ga perlu dibela..”

Weleh, tunggu sebentar. Organisasi-organisasi agama yang dibentuk selama ini, dari agama manapun, didirikan untuk membela Tuhan, atau untuk kepentingan para pemeluk agama? Organisasi tersebut dibentuk untuk mengurusi, menyuarakan, dan mengakomodasi kepentingan para penganutnya. Jika organisasi tersebut bertujuan melindungi kepentingan para anggotanya, kenapa dituduh sedang berusaha membela Tuhan? Saya koq tidak ingat ada organisasi agama yang visi dan misi organisasinya adalah: “untuk membela Tuhan di muka bumi..”

“Kenapa sih anti banget dengan seks bebas? Anti banget dengan rok mini? Padahal diam-diam toh suka nonton film porno, doyan seks juga, suka melototin paha juga.. Dasar otaknya aja yang kotor.. Bersihin tuh otaknya, jangan urusin pakaian orang lain.. Kalau otaknya bersih dan imannya kuat, mau ada yang telanjang di depannya juga ga akan tergoda.. Gak usah munafik dan sok suci deh..”

Lhaaa… Sebentar… Kelompok yang anti seks bebas bukan berarti mereka ga doyan seks ya.. Yang menjadi penentu adalah bagaimana cara kami menyalurkan hasrat kami.. Kami tentu saja suka seks, menikmati seks, tapi dengan pasangan kami, dengan cara yang bertanggung jawab.. Seks merupakan rahmat Tuhan, tapi nikmatilah secara bertanggung jawab.. Jika kami memang maniak seks yang suka meniduri semua makhluk yang berkaki dua, tentu saja kami dengan senang hati mendukung seks bebas.. Itu berarti kami makin bebas meniduri berbagai macam wanita tanpa harus pusing mikirin pampers dan susu, karena, dengan menyebarnya paham seks bebas, makin banyak wanita yang bersedia kami manfaatkan (dan kami tiduri), kemudian kami tinggalkan setelah puas..

Otak kami yang kotor? Ayolah, jika saja para lelaki diciptakan tanpa nafsu, maka sudah lama manusia punah.. Sudah kodratnya laki-laki akan tergerak nafsunya jika melihat paha wanita.. Jika ada lelaki yang dengan gagah berani bilang tidak tergerak nafsunya saat melihat paha wanita cantik, itu hanya omong kosong agar semakin banyak wanita yang memamerkan pahanya dengan senang hati.. Rok mini, memang diciptakan untuk memancing perhatian (dan nafsu) para lelaki.. Jika kami memang berfikiran kotor dan tak bisa menahan iman, tentu kami akan turun ke jalan untuk mendukung semua wanita memakai rok mini.. Makin banyak wanita yang bisa memuaskan nafsu kotor kami.. Jadi, siapakah yang berfikiran kotor dan tidak bisa menahan iman? Para lelaki yang menentang rok mini, atau pendukungnya? Para penentang seks bebas, atau pendukungnya?

Propaganda, seringkali seperti pelacur, menggunakan riasan tebal dan indah untuk menutupi kebusukan di baliknya..

Saya pernah tinggal di kos-kosan di Yogya, yang anak-anaknya terdiri dari berbagai macam aliran: agnostik, atheis, kejawen, liberal, penyembah keris, bahkan ada begitu bingung, sehingga akhirnya mengaku sebagai komunis relijius…

Dengan beragamnya fikiran yang pernah kami perdebatkan, diiringi menyeruput kopi dan menghisap rokok, fikiran saya dijejali dengan berbagai macam aliran lengkap dengan argumen yang luar biasa indah.. Mungkin itu yang membuat saya jadi terlatih mengasah logika, sambil garuk-garuk kepala, dan selalu mencoba melihat jauh ke balik kata-kata nan indah itu.. Nih, kata-kata bijak yang lagi trend saat ini:

“Lady Gaga koq diributin.. Apa bedanya dengan yang sudah ada di Indonesia? Penyanyi Indonesia juga banyak tuh yang seronok. Tuh penyanyi dangdut seronok masuk sampai ke kampung-kampung, ditonton anak-anak. Jika mau adil, yang seperti itu juga dilarang dong..”

Lha para pendukung kebebasan itu memangnya selama ini mendukung pelarangan pornografi sampai ke kampung-kampung? Dulu saat Inul banyak yang menentang, kaum liberalis juga menggunakan dalil yang sama: ‘yang lain juga dilarang doong’. Protes soal chef Sarah Quin (betul ga ya namanya?), juga ditentang dengan alasan: ‘dia ga sengaja tampil seronok koq’. Jika tempat-tempat maksiat digerebek, katanya menghalangi orang cari nafkah. Jika penyanyi dangdut seronok itu diprotes masyarakat sekitar, dijawab: urus dosa masing-masing, kalau ga suka ya ga usah nonton.. Bahkan di saat semua itu berusaha dikurangi dengan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi, banyak yang menjerit-jerit: “jangan memasung kebebasan berekspresi!” Intinya kan sebenarnya: “Jangan larang kami melakukan pornografi dan pornoaksi, di tingkat manapun! Mau kami menari bugil sambil mutar-mutarin baju di atas kepala di genteng rumah kami, yo jangan protes!” Jadi, kenapa membanding-bandingkan Lady Gaga ama Keyboard Mak Lampir? (julukan para pedangdut seronok di daerah kami..). Toh dua-duanya sebenarnya kalian dukung, atas nama kebebasan berekspresi? Kami, malah sedang berusaha menentang dua-duanya..

“Kita hidup dlm masyarakat yg sangat plural, sehingga setiap individu hendaknya bebas memilih & menjalankan apapun prinsip hidupnya (termasuk mendukung Irshad Manji atau Lady Gaga), lalu semuanya saling menghormati dlm segala perbedaan pilihan tsb”

Hmm.. Bijak dalam teori, kacau balau dalam praktek. Jika saja semua individu bebas menjalankan prinsip hidupnya, maka kita ga perlu nunggu suku Maya meramalkan akhir dunia. Bisa dibayangkan, jika banyak orang yang mendukung Sumanto, lalu menjalankan prinsip hidupnya sebagai kanibal, maka ayam goreng Kentucky ga bakal laris lagi, dan banyak orang yang nenteng-nenteng pisau daging dan botol merica di jalanan.. Atau, jika banyak orang yang mendukung Amrozi, kemudian menjalankan prinsip hidupnya sebagai pelaku bom bunuh diri, maka terminal bus way yang paling sesak pun akan bubar dalam 5 detik (termasuk penjaga tiketnya) begitu ada lelaki menyandang ransel datang mendekat..

Ya, ya saya tahu.. Argumen saya di atas pasti akan berusaha dimentahkan dengan argumen: “yang penting kan ga merugikan kalian” dalam bentuk kata-kata bijak nan koplak berikut:

“Apa salahnya dengan pornografi? Atau lesbi? Atau perbuatan-perbuatan maksiat lainnya? Toh ga merugikan anda. Jika anda tidak suka, ya ga usah ditonton, ga usah diikuti.  Jika takut anak anda terpengaruh, ya perkuat pendidikan iman anak-anak anda. Kalau iman sudah kuat, mau 1000 Lady Gaga datang ke Indonesia, iman kita (dan anak-anak kita) tidak akan terpengaruh..”

Hellooo.. Kita memang makhluk individu, tapi kita juga makhluk sosial. Setiap tindakan kita, sekecil apapun, akan berpengaruh terhadap lingkungan kita. Contoh gampangnya, kenapa kita protes sama tetangga kita yang buang sampah ke kali? “Toh sampahnya sampah dia sendiri (ya mana mungkin dia dengan ikhlas buangin sampahnya ente), kalinya bukan milik mbahmu, lantas kenapa ente yang sewot?” Lha memangnya kalo banjir, banjirnya muter-muter dulu cari siapa bajingan yang membuang sampah, lalu terus menyerbu menggenangi rumah tetangga anda saja sampai setinggi kepala?

Ok kita tidak suka perbuatan-perbuatan maksiat, dan kita berhasil menghindarinya. Lalu kita juga menanamkan iman yang kuat ke anak-anak kita, dan juga berhasil. Dan kita teriak ke luar sana: “Maree seneee Lady Gaga, Freddy Mercury, Jhon Kei dan Mak Lampir jadi satu!! Iman saya dan keluarga saya dah kuat koq!” Tapi sekian tahun ke depan, tiba-tiba ada anak tetangga kita yang kecanduan pornografi, lalu tidak tahan, dan akhirnya memperkosa anak perempuan kita.. Atau ada orang yang mabuk karena alkohol dan narkoba, lalu menabrak seluruh keluarga kita yang sedang jalan-jalan di trotoar.. Atau anak perempuan kita hilang, diculik sindikat yang menjualnya ke prostitusi.. Atau anak lelaki anda disodomi keluarga jauh anda.. Atau seorang pecandu merampok dan membunuh anda karena butuh uang untuk beli sabu.. Sama seperti banjir, ekses negatif dari perbuatan maksiat, tidak akan pernah pilih-pilih siapa korbannya, baik anda berbuat maksiat atau tidak..

Benar, bahwa kita tidak salah 100%, tapi, sebenarnya, kita tetap punya andil dalam hal itu. Kita sukses memperkuat iman keluarga kita, tapi kita abai dengan lingkungan kita. Itulah kenapa dalam Islam ada seruan: “amar makruf, nahi munkar”. Menyeru kepada kebajikan, mencegah kemungkaran. Jika kita mengabaikan kemunkaran di lingkungan kita, dengan prinsip: “urus dosa masing-masing”, yakinlah, cepat atau lambat, kita akan memetik hasilnya…

Masih enggan untuk amar makruf nahi munkar?

“Beri saya 10 media massa, maka saya akan merubah dunia..”

Saat ini, sungguh naif jika kita percaya media mainstream akan memberikan opini yang netral dan berimbang terhadap semua hal. Mereka akan memberikan opini yang sesuai dengan kepentingan sang pemilik (gimana kalo pemiliknya adalah Ryan Jagal?). Sungguh sangat berbahaya jika kita menganggap semua yang diberitakan media adalah berita yang 100% benar, tanpa berusaha mengkritisi dan mencari berita dari sudut pandang lain sebagai penyeimbang. Yuk, kita kritisi kata-kata bijak penutup ini.

“Menonton atau membaca pornografi, kekerasan, atau apapun tidak akan mempengaruhi saya. Toh semua manusia dibekali filter untuk menyaring, dan otak untuk berfikir. Jadi mau saya baca atau tonton ribuan kali pun , tidak akan merubah pendirian saya.. Satu kali nonton konser lady Gaga tidak akan membuat yg nonton jd pemuja setan dan lesbian kan?”

Hohohoho.. Yuk kita bandingkan keadaan sekarang dan keadaan 20 tahun yang lalu, tahun 80-90an. Zaman dulu, seks bebas di Indonesia masih sangat sedikit jumlahnya. Untuk kaum remaja saat itu, bergandengan tangan di depan umum saja, sudah menimbulkan ledekan yang membuat sang pelaku ingin menceburkan diri ke selokan terdekat. Lihat anak-anak sekarang? Mungkin anda sendiri yang dengan sukarela akan menceburkan diri ke selokan terdekat saat melihat gaya mereka berpacaran. Bahkan sekarang mereka dengan senang hati menyebarkan prilaku mereka dalam bentuk video yang jumlahnya mulai menyaingi produksi film porno Amerika dalam setahun.. Kenapa bisa bergeser? Apa anda kira para orang tua dan guru lah yang menanamkan dogma: “Anakku, kamu harus rajin-rajin seks bebas yaa, biar dapat rangking.. Yuk kita memasyarakatkan seks bebas dan menseks bebaskan masyarakat..”?

Jadi, siapa yang mengajari mereka? Jawabannya sederhana: media massa. Selama berpuluh-puluh tahun mereka menggempur otak bawah sadar kita dengan berbagai film, buku, berita, cerita, sinetron, dan lain-lain yang secara sangat halus menyiratkan: “Seks bebas itu hal yang biasa aja cooy.. Anak gaul, malu dong jika masih perawan di usia 18. Tuh, banyak artis idola kamu yang melakukannya.” Memang benar 1000 kali membaca, atau 1x nonton Lady Gaga belum tentu merubah kita.. Tapi, pesan-pesan itu ditanamkan selama berpuluh-puluh tahun, dalam bentuk jutaan pesan per tahun, dari berbagai arah, terhadap anda dan keluarga anda. Yakin anda dan keluarga anda tidak terpengaruh sedikitpun?

Siapa yang paling mudah bobol? Tentu saja anak anda. Anda kira, kenapa iklan McDonald dan rokok mengarah kepada anak-anak dan remaja? Karena merekalah berada dalam fase yang labil dan paling mudah dipengaruhi, dibandingkan orang tuanya. Saat mereka menjadi dewasa dan lebih bijaksana, rokok, junkfood dan seks bebas itu sudah menjadi kebiasaan mereka, candu mereka, sehingga mereka akan sangat sulit meninggalkannya, walau akhirnya paham kerusakan macam apa yang ada dibaliknya.

“Tetap ngga ngaruh maaas, iman gue kan KW1″ Mungkin. Tapi, sedikit banyak, anda akan terpengaruh. Anda akan menjadi permisif: “Biar ajalah orang lain melakukannya, yang penting aku tidak.. Toh banyak yang melakukan, dan itu bukan urusanku”. Itulah yang menjadi target selanjutnya: menanggalkan kontrol sosial anda.. Jika laju ‘cuci otak’ ini terus berlanjut, sepuluh tahun ke depan, jangan heran jika akhirnya kitalah yang mengekspor video porno ke Amerika dan masyarakat Amerika lah yang nonton konser Iwak Peyek Tour 2022.

“Jangan melihat siapa yang mengatakan dong. Kalau mau mengkritisi, kritisi gagasannya, kata-katanya, fikirannya. Jangan kritisi pribadi dan kelakuannya (bahasa alaynya: ad hominem).”

Oalaaah.. Saya beri contoh kasus ringan. Misalnya, kata-kata ini diucapkan dua orang yang berbeda: “Saya akan memajukan bangsa Indonesia. Saya akan berjuang menciptakan budaya bebas korupsi, pola hidup sederhana, dan mengikis habis kebohongan birokrat dan legislatif” Yang pertama, diucapkan oleh Buya Hamka. Satu lagi, diucapkan Angelina Sondakh. Saya rasa, yang pertama membuat anda manggut-manggut percaya, dan yang kedua membuat anda setengah mati menggigit bibir, lalu terguling karena tertawa terbahak-bahak.. Kenapa kata-kata yang sama persis, dengan nada sama persis, tapi diucapkan oleh dua orang yang berbeda, hasilnya bisa berbeda? Setiap kata-kata, sebijak apapun, selalu ada motif dibaliknya. Dan motif itu, sangat terkait dengan pribadi orang yang mengucapkannya. Jadi, kenapa kita tidak boleh mengkritisi pribadi yang mengucapkannya?

Jika anda ingin minta pendapat tentang gaya rambut, anda bertanya kepada penata rambut, atau ke tukang las? Jika saya bilang “lha masa tukang las mengerti soal gaya rambut”, apa itu ad hominem?

Kasus Irshad Manji adalah contoh lain yang gamblang tentang hal itu. Dia dibesar-besarkan media sebagai seorang reformis muslim yang berusaha mencerahkan umat Islam. Tapi di dalam bukunya, ia membantah prinsip-prinsip Islam sendiri dengan cara mempromosikan lesbian, gay dan transgender, menghina jilbab, bahkan meragukan kesempurnaan Al Quran..  Jika kita mengkritisi pribadinya yang lesbian (dan tentu saja ia akan berjuang keras agar lesbian dihalalkan dalam Islam) dan mengkritisi sikapnya yang meragukan Al Quran, di mana salahnya? Bukankah kita memang selalu menilai siapa yang berbicara, bukan hanya apa yang ia ucapkan? Bagaimana mungkin dia seorang muslim, jika ia meragukan Al Quran? Itu kan sama saja dgn ia mengaku lesbian, sambil menyatakan lagi jatuh cinta dgn Rhoma Irama.. Lha kenapa jika kami meragukan keislamannya, tiba-tiba muncul teriak-teriak histeris “Ad hominem! Ad hominem!?”

Nah, kata bijak terakhir ini, mungkin adalah yang paling masuk akal, dan paling sulit dibantah. Tapi mungkin juga, inilah kata-kata bijak yang paling koplak..

 “Di masyarakat yang plural ini, janganlah ada pemaksaan kehendak. Biarlah setiap orang melakukan pilihannya sendiri, tanpa paksaan. Sesuatu yang dipaksa itu pasti tidak baik. Nilai yang dianut setiap orang berbeda, jadi jangan paksakan nilai yang kamu anut terhadap orang lain.. Jangan jadi tirani mayoritas..”

Sulit membantahnya kan?

Pertama-tama, saya tanya dulu: apakah sebagian besar dari kita memang dengan sukarela masuk kerja jam 8 dan pulang jam 5 atau bahkan lembur? Apakah memang kita yang memohon-mohon agar jatah cuti kita setahun cukup dua minggu? Apa anda memang luar biasa ikhlas dengan jumlah gaji anda sekarang? Jika tidak, kenapa anda tidak coba mengatakan kepada atasan anda sekarang:”Maaf pak, sebenarnya saya menganut paham bahwa kerja itu hanya 3 jam sehari, cuti 6 bulan dalam setahun, dengan gaji minimal 30 juta. Jadi, jangan paksakan kehendak bapak..”

Apa anda dulu saat remaja belajar dengan sukarela, ikhlas bin legowo?

Semua hukum dan undang-undang, apalagi dalam alam demokrasi, pada prinsipnya, adalah pemaksaan kehendak, dari sebagian besar masyarakat yang sepakat, kepada masyarakat lainnya yang tidak sepakat. Memangnya semua orang setuju dengan UU tentang Narkotika? Atau UU tentang Korupsi? Atau bahkan UU Pajak? Apa anda kira semua wajib pajak memang sudah gatal setengah mati ingin membayar pajak sebesar itu? Lha kenapa kaum liberal ga pernah menjerit-jerit di jalanan: “Jangan paksakan kehendak! Biarkan mereka bayar pajak seikhlasnya..”

Jadi kenapa, saat ada penduduk di suatu daerah setuju untuk memberlakukan perda anti prostitusi, perjudian dan miras, dengan hukuman cambuk bagi pelakunya, kaum liberal tiba-tiba lantang berteriak “Itu melanggar HAM!”. Anda kira memenjarakan orang itu tidak melanggar HAM nya untuk hidup bebas merdeka? Dan kenapa, ketika RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi berusaha disahkan, tiba-tiba saja prinsip demokrasi berdasar suara terbanyak dianggap sebagai tirani mayoritas? Jika memang begitu, ga ada salahnya dong jika para pecandu narkoba dan miras ramai-ramai naik xenia untuk demo di jalanan dan berteriak “Jangan jadi tirani mayoritas! Kalian sudah melanggar HAM kami untuk ajeb-ajeb sampai pagi..”.

Jika saja setiap undang-undang harus disepakati semua orang dulu baru bisa disahkan, maka kita tidak akan pernah punya undang-undang satu pun. Yang tidak boleh, adalah memaksa dengan kekerasan. Jika sudah banyak yang setuju, dan memang UU itu demi kebaikan bersama (sama seperti kita dipaksa belajar saat remaja), di mana salahnya?

Penutup

Jujur, saya tidak membenci orang-orang liberal. Beberapa teman-teman dekat saya adalah orang liberal. Dan saya tahu, beberapa dari mereka, memang yakin bahwa yang mereka perjuangkan adalah demi kebaikan bangsa.. Tapi, banyak juga di antara mereka yang hanya ingin menciptakan lingkungan yang tepat, untuk melampiaskan nafsu mereka..

Tapi, saya koq sama sekali tidak sreg melihat arah menuju kebebasan yang mulai sangat kebablasan ini. Lihat generasi muda kita. Terus terang, jika melihat gang motor melintas yang membuat saya ngeri, video porno remaja yang terbit seminggu sekali, anak-anak SD di warnet yang saling memaki sambil mendownload lagu “selinting ganja di tangaaan…”, remaja yang membentak ibunya, siswa SMP menjual diri demi beli handphone, dan penjual narkoba yang jauh lebih banyak daripada indomaret, saya kadang-kadang pingin kemas-kemas dan pesan tiket ojek sekali jalan ke Timbuktu. Bukan ini lingkungan yang saya bayangkan bagi saya dan anak-anak saya kelak.. Dan saya bisa bayangkan masa depan negara kita jika para remaja yang seperti ini yang menjadi para pemimpin kita kelak..

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Mengharapkan media mainstream untuk mendidik remaja kita, sama saja seperti mengharapkan Lady Gaga mengisi kuliah subuh. Mereka lah yang menolak paling keras dan berjuang menggiring opini masyarakat setiap kali kita ingin negara mengendalikan mereka. Kadang-kadang, saya merasa, mereka lah yang menjadi lembaga superbody. Dan ingatlah: para wartawan media, adalah karyawan, yang tunduk pada kehendak majikan mereka.

Jurnalisme warga seperti kompasiana, forum-forum seperti kaskus, blog-blog, dan media-media online lainnya, mungkin itulah satu-satunya harapan kita di masa depan.  Sulit melawan media mainstream? Jelas, jika dilakukan sendirian. Tapi, saya yakin, banyak orang-orang yang memiliki nurani di luar sana yang, saya harap, bersedia menyeimbangkan dan memulihkan cuci otak masyarakat dari pengaruh yang telah media massa berikan. Ingatlah, revolusi raksasa yang merubah bangsa Arab sudah membuktikan, bahwa kekuatan jurnalisme warga yang bersatu bahkan mampu menumbangkan para pemimpin yang didukung salah satu negara terkuat di dunia. Demi hidup kita, dan hidup anak-anak kita, apa itu bukan sesuatu yang pantas diperjuangkan?

Orang-orang yang mencari kebenaran itu, seperti air. Jika dihadang, ia berbelok. Dibendung, ia akan merembes. Bahkan jika dibendung dengan menggunakan beton dalam bendungan raksasa, ia akan menguap.. Ia tidak akan pernah lelah mencari jalannya…”

Oleh: Dian Jatikusuma, Medan
Penulis adalah Kompasianer

Posted in Pribadi | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: