Sudah Kenal Atau Baru Sebatas Menilai…

Ikat Ilmu Dengan Menuliskannya…

The power of social media in framing natural disaster issues at BMKG Indonesia

Posted by suradigorontalo on 26 April 2017

Indonesia is prone to tsunami; from local to giant tsunami. The giant tsunami hit Aceh on December 26, 2004. It’s estimated quarter of a million people around the Indian Ocean region was dead. As we know that the arrival time of local tsunami is very short, between 10-60 minutes (the golden time, red.) that makes the Tsunami Early Warning information dissemination becomes challenging. In consequence, this will have a direct impact on evacuation procedures and evacuation time which is very short.

Figure 1: Photo documentation of the Rahmatulloh masjid building and surrounding affected by the Giant Aceh tsunami

1

Source: AFP (2004)

Figure 2: The writer’s inside Rahmatulloh masjid at Lhok Nga district

2

Source: private collections (2017)

Based on this fact, the Indonesian Agency for Meteorology, Climatology and Geophysics (BMKG) the official agency who has responsibility to disseminate climate change, earthquake and tsunami warning in Indonesia, developed the Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) uses social media to maximize public safety. One of them is using twitter. BMKG’s twitter account through the social networking @infoBMKG has exceeded 3 million followers since officially launched on February 2014  to disseminate weather, climate, climate change, air quality, earthquake and tsunami (M. Adriyanto, 2017).

Figure 3: The official BMKG’s twitter account

3

Source: M. Adriyanto (2017)

Availability and ease of public access to this information service, not only to answer the challenges of mitigation, but also can be used for public education. Social media is utilised also to raise awareness and community preparedness for a potential disaster and public engagement in Indonesia. Kirilenko and Stepchenkova (2014) found that in Jakarta at least issue of climate change is tweeted 20 times per day. From figure 4, the triangle symbol represents a tweet value at least one tweet per day. The bar represents tweet over 20 times per day.

Figure 4: The number of tweeting on climate change issue

4

Source: Kirilenko and Stepchenkova (2014)

In comparison, an attention to environmental issues especially climate change undertaken by the old media (i.e. newspaper), also has a positive trend in Indonesia. Schmidt et al (2013) found that there was an increase trend in the Indonesian newspaper attention to the issue of climate change up to 10 per cent of the data from 1996 to 2010.

Figure 5: The attention of the Jakarta Post newspaper for climate change issues in Indonesia

5

Source: Schmidt et al (2013)

Using blogs and social media are tools for involving the public (Mangold and Faulds, 2009). Publics feel more involved with the products and organizations when they are able to submit feedback. The feedback contributes to a sense of community that is honest, open communication is encouraged and enhanced public engagement. Use both internet-based information and traditional tools to engage the public is the best way to keep public up to date with the information.

Figure 6: The six progressive levels of participation

6Source: Parent et al. (2011)

Parent et al (2011) state that there are six stages of public participation, from viewing, forwarding, commenting, creating and finally arbitrating (fig.6). This progressive participation is associated with the levels of involvement distinguished by Hallahan (table 1).

Table 1: Level of involvement

t1Source: Hallahan (2000)

Along with the development of technology, when numerous studies on various aspects of social media grows, but no one has made ​​a formal categorisation of social media. Frased and Dutta (2008) divide social media into five major categories at the very first time named: egocentric, community, opportunistic, passion-centric, and media sharing sites.

Table 2: Categories of social media

t2Source: Frased and Dutta (2008)

Utilisation of social media in the government officially to support the public services is still considered relatively new when compared with the private sector and individual interests. To date, social media as knowledge management systems, particularly subject for disaster and emergency management began to be used for communicating risk. For example, social media applications and technologies have been used by government responding to disasters in Haiti earthquake (Yates & Paquette, 2010). Mendonca et al (2007) examine that social media is able in response support disasters preparedness, including the need for cross-boundary collaboration.

Taylor and Kent (1998) became a pioneer in a study of organisational strategy in building a relationship over the internet with a dialogical two-way communication. Taylor and Kent noted that internet provides opportunity to create a public relations organization through a dialogical component that allows input and communication to the public. Examples of dialogical component which are proposed including forums comments and e-mail contact form. By having a two-way dialogue through social media, in the case of the American Red Cross uses social media reports providing faster service for publics, generating more media coverage, and receiving negative and positive feedback from stakeholders to improve the organization (Briones et al, 2011).

However, there are many obstacles in the implementation of using social media. The most frequently cited barrier to using social media was resources, specifically time and staff.  Also, another problem is the staff from an older generation usually unfamiliar with new advanced technology. This translated into a view that an obstacle to using social media is that it alienates the older generation.

All in all, related to technologies advanced, in addition to using a rich variety of social media, we should also continue to use old media to accommodate the wider public attention. H K B N – #SiapUntukSelamat, #BMKG

Posted in Pribadi | Leave a Comment »

CENDERAMATA DARI NEGERI MANDELA

Posted by suradigorontalo on 19 April 2017

Pada Maret 2017 yang lalu menjadi sejarah bagi hidup saya karena bisa menginjakkan kaki pertama kalinya di benua Afrika untuk menghadiri konferensi internasional tentang layanan iklim bertajuk: The fifth International Conference on Climate Services (ICCS5) yang berlangsung di kota Cape Town, selama tiga hari. ICCS5 ini menyandingkan institusi, baik publik maupun swasta, organisasi maupun pribadi yang terkait dengan layanan iklim di seluruh dunia dan acara ini merupakan wujud kepanjangan tangan dari program Global Framework for Climate Services (GFCS) yang merupakan framework untuk menjembatani penyedia layanan iklim dengan penggunanya dan resmi bagian dari organisasi meteorologi dunia (WMO).

SAM_9219.JPG

Kegiatan ICCS5 yang bertemakan Inovasi dalam layanan iklim dan membangun kapasitas penyedia layanan

Serasa perjalanan yang melelahkan Jakarta-Cape Town selama 15 jam dengan maskapai Emirates terbayar sudah. Di acara tersebut, saya bertemu dengan banyak pakar dari berbagai disiplin keilmuwan dari berbagai benua: Eropa, Amerika, Australia, Asia dan Afrika tentunya. Bisa berdiskusi dengan Andrew Kruczkiewicz (ahlinya program CPT dari IRI Columbia University),  Angel Munoz (ahlinya layanan subseasonal‐to‐seasonal (S2S), Princeton University) merupakan kebahagiaan tersendiri. Juga berkesempatan berdialog dengan Ms. Erica Allis dari WMO (GFCS) hingga akhirnya bertukar fikiran dengan Ibu Lili dari Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Indonesia adalah kesempatan langka. Bahkan, beliau Bu Lili memperkenalkan dan menawarkan program pendanaan berlabel Sustainable Development Finance (SDF) untuk pembantu mendukung permasalahan dana terkait dampak perubahan iklim melalui kebijakan fiskal.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Bersama Andrew, pakar Climate Predictability Tool (CPT), salah satu tool yang dipakai dalam operasional iklim di BMKG

Seketika semangat saya membuncah, sambil sekelabatan teringat sayup sambutan Dr. Widada, Sestama BMKG pada suatu pembukaan acara bahwa porsi anggaran yang ada saat ini menjadi kendala terkait kebijakan BMKG untuk ber-inovasi. Anggaran yang ada sebagian besarnya tersedot untuk kebutuhan operasional yang rutin. Alhasil, perlu adanya sumber dana yang bisa mengucur deras dalam usaha untuk ber-inovasi yang tidak menutup kemungkinan pula menjalin kerja sama dengan swasta ‘public-private partnerships’. Ya, harapan untuk itu masih ada dan terbuka untuk mencapai jangkauan, ketepatan, ragam, manfaat, dan kecepatan layanan BMKG yang semakin unggul. Oiya, terkait pula dengan kerja sama dengan kawan internasional, sayapun akhirnya ditawari oleh Dr. Sukaina Bharwani dari Stockholm Environment Institute (SEI) yang berkantor pusat di U.K untuk mengagihkan kepakarannya ke penyedia layanan iklim di Indonesia agar layanan iklim yang efektif dan efisien menjangkau penggunanya.

Di hari terakhir pengembaraan saya di negeri Mandela ternyata tidak kalah menariknya, saya bertemu dengan Whasiel, sang pengemudi daring Uber. Pertemuan ini terjadi dikarenakan selama saya mengandalkan mode ojek mobil online Uber selama di sana. Uber tidak hanya fenomenal di Indonesia tapi juga di Afrika Selatan. Ternyata alangkah terkejutnya saya, beliau masih memiliki darah Indonesia berasal dari kakeknya yang dahulu kala menjadi salah satu generasi yang dibuang ke Afrika Selatan sebagai budak zaman penjajahan Belanda. Whasiel bahagia bisa bertemu lagi dengan orang Indonesia hingga mau mengantarkan kemana saya mau dengan tarif saudara, katanya. Sayapun memberikan baju batik sebagai penanda pertemanan kami.

Masjid tertua di Cape Town

Bersama Whasiel di depan Masjid Auwal, masjid tertua di Cape Town

Di hari terakhir sebelum kembali ke tanah air, saya diajak berkeliling Cape Town oleh Whasiel yang baik hati ini. Satu tempat yang menarik bagi saya adalah Boulder Visitor Center, tempat dimana penguin Afrika biasa berkumpul. Bercengkerama dalam kehangatan berkeluarga serta meninggalkan anak cucunya. Sehingga tempat ini mengingatkan kepada saya akan nasib satwa, khususnya penguin yang ikut terancam dampak perubahan iklim. Sebelum membahas lebih jauh perubahan iklim. Nah, sering kita mendengar dan membaca istilah variabilitas iklim dan juga perubahan iklim. Tebersit di hati apa yang membedakan keduanya. Bahkan di BMKG sendiri, terdapat bagian khusus yang menangani dua hal tersebut secara terpisah. Jadi begini, variabilitas iklim sifatnya reversible, membentuk osilasi ataupun siklus. Sedangkan perubahan iklim sifatnya one-directional, bersifat trend baik suhu maupun curah hujan (Huber dan Jay, 2001). Ketika berbicara tentang iklim yang berubah maka setidaknya ada satu dari empat elemen statistik perubahan yang bisa dilihat yakni: apakah 1). amplitudo, 2). rata-rata, 3). trend, ataupun 4). panjang gelombangnya.

4.jpg

Identifikasi perubahan iklim: 1). amplitudo, 2). rata-rata, 3). trend, 4). panjang gelombang

Dan sesungguhnya, isu kepunahan satwa akibat perubahan iklim tak kalah seksi dengan isu pilkada saat ini. Namun, belum banyak pembaca yang menyadari bahwa perubahan iklim bisa berimplikasi pada perubahan habitat yang pada gilirannya berdampak pada ketidakseimbangan jaring- jaring makanan, termasuk berpengaruhnya pada Sang pemuncak jaring- jaringnya yakni manusia.

Persepsi saat ini bahwa ilmuwan mensinyalir adanya migrasi satwa dikarenakan tidak mampunya mereka menyesuaikan perubahan suhu yang menyergah habitat asli mereka. Bahkan, ada beberapa jenis satwa yang telah menuju punah disebabkan oleh iklim yang telah berubah. Salah satunya adalah penguin di Afrika, yang sering salah jalur dan tidak menemukan sumber makanan utamanya ketika musim mencari plankton dan ikan tiba. Sehingga berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) terbaru, pada gilirannya jumlah penguin Afrika tinggal lima puluh ribuan saja sisanya.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Sekumpulan penguin Afrika (Spheniscus demersus), di Pantai Boulders di pinggiran Samudera Atlantik

Bagaimanapun juga, yang perlu diperhatikan adalah hubungan antara  iklim dengan satwa, yang pada akhirnya menyebabkan ketidakmampuan satwa untuk bertahan hidup sehingga harus bermigrasi ataupun paling buruknya adalah punah. Ditambah lagi dikarenakan aktivitas manusia di masa yang akan datang akan semakin berubah akan merubah habitat. Hal yang paling mengkhawatirkan adalah kepunahan ataupun migrasi. Satu satwa akan mempengaruhi satwa yang lain sehingga akan mempengaruhi lingkungan yang baru sehingga akan merubah rantai makanan.

Bagaimana dengan satwa di Indonesia? Disinyalir ikan Pesut Kalimantan sudah mengalaminya. Andai ini benar terjadi maka kita akan makin kesulitan menyebut lima saja nama ikan. Bayangkan, hal yang sangat menyedihkan bukan? 😦

Pada akhirnya, cenderamata berharga yang saya bawa bukanlah gantungan kunci, boneka Ndebele ataupun magnet kulkas semata.

20170303_140222.jpg

Boneka Ndebele yang dijajakan salah satu kios di Boulders Visitor Centre, Simon’s Town

20170303_140655.jpg

Magnet kulkas khas Afrika Selatan yang dipajang di kios cenderamata di Boulders Visitor Centre

Namun, cenderamata yang lebih bernilai berupa agih pengalaman terkait layanan iklim, membuka peluang kerja sama dengan institusi lain dan peluang sumber dana untuk kemajuan dan keberlangsungan kehidupan masyarakat Indonesia dan lingkungannya baik flora maupun faunanya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai lembaga penyedia data informasi keikliman siap bahu-membahu dalam penerapannya. Iklim Memberlangsungkan Indonesia!

Posted in Teknik Kebumian | Leave a Comment »

In front of ITC Hotel

Posted by suradigorontalo on 27 January 2013

In front of ITC Hotel

That’s the hotel where we stay for Tailor Made Training in ‘Climate Change in relation with Food Security in Indonesia’ at the expense of StuNed Nuffic Neso from January 19, 2013 until Pebruary 17, 2013.

Posted in ClimateMinded, Pribadi | Leave a Comment »

Pengolahan Data Satelit MTSAT

Posted by suradigorontalo on 4 August 2012

Pengolahan Data Satelit MTSAT

 

Teori Singkat

 

DR. Verner E. Suomi, Bapak Satelit Meteorologi. MTSAT adalah satelit yang peluncurannya mempunyai 2 tujuan yaitu sebagai satelit cuaca dan satelit komunikasi.

 

MTSAT-1R, diluncurkan 26 Februari 2005, pada koordinat 140°BT. Sedangkan MTSAT-2 diluncurkan pada 18 Februari 2006, pada koordinat 145°BT. MTSAT-2 menggantikan misi satelit MTSAT-1R yang telah beroperasi sejak 5 tahun sekitar tahun 2010.

 

Penambahan notasi R pada MTSAT-1R menunjukkan satelit ini     sebagai pengganti MTSAT-1 yang gagal mengorbit.

 

Imager pada MTSAT:

  • IR1-IR2, 10-12µm, infra merah thermal yg menunjukkan suhu muka tanah, muka laut atau puncak awan di atas keduanya.
  • IR3, 6,5-7 µm, sensor uap air, menunjukkan kandungan uap air di lapisan atmosfer menengah.
  • IR4, 3,5-4 µm, sensor infra merah gelombang pendek, perpaduan dengan infra merah untuk deteksi kabut pada malam hari.

 

Urutan Langkah Pengolahan

 

Langkah Pertama, Mengumpulkan data pgm.gz untuk kanal IR1, IR2, IR3 dan IR4 untuk tulisan ini diambil untuk tanggal 15 Februari 2010 per-jam.


Langkah Kedua, data kanal IR1 di dump untuk mendapatkan satu ctl dan dat untuk data 24 jam.


 

Langkah Ketiga, menjalankan script HovMoller sehingga diperoleh keluaran Temperatur Black Body Rata- rata. Hasil TBB/ Temperatur Black Body (satuan Kelvin) di atas wilayah 0,6384LU dan 122,85BT per-jam pada tanggal 15 Februari 2010 ditunjukkan gambar di bawah ini:

 


 

Sedangkan TBB d atas sepanjang bujur 122,85BT adalah seperti berikut di bawah ini:


 

Sedangkan hasil HovMoller langkah ketiga adalah sebagai berikut:


 

 

Langkah Keempat, melakukan dump data kanal IR1, IR2, IR3 dan IR4 kemudian dibuat plot dan grafik HovMoller tiap jam per-kanal. Berikut ini adalah plot HovMoller Penampang Lintang terhadap Waktu dengan pusat di lintang 0,6384LU yang merupakan posisi bandar udara Jalaluddin Gorontalo untuk tiap- tiap kanal sbb.:

 


 

Di bawah ini adalah penampang Bujur Temperatur Black Body terhadap waktu dengan pusat di bujur 122,8519BT yang merupakan lokasi bandara Jalaludin Gorontalo:


 

Untuk mengetahui evolusi TBB maka dibuat pula plot HovMoller dengan format cross-section lintang terhadap waktu sbb.;


 

Langkah terakhir adalah analisis, dari Plot HovMoller bisa diperoleh informasi tren kondisi meteorologi dari sudut pandang penampang lintang dan atau bujur terhadap waktu.

 

Nilai TBB yang lebih besar khususnya di sebelah timur wilayah data yang dipilih dikarenakan berada di atas perairan.

 

Semoga bermanfaat. Aamiin.

Posted in Teknik Kebumian | Leave a Comment »

Analisis Hidrologi – Daerah Aliran Sungai

Posted by suradigorontalo on 13 December 2010

Watershed Modeling System (WMS) Daerah Aliran Sungai Limboto Gorontalo

Oleh   :

S U R A D I

Forecaster BMKG Prov. Gorontalo


1.        PENDAHULUAN

DAS ( Daerah Aliran Sungai ) adalah padanan kata drainage area, drainage basin atau river basin. Batas DAS dirupakan oleh garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau lahan meninggi, yang memisahkan sistem aliran yang satu dengan sistem aliran yang lain di sebelahnya. Atas dasar pengertian tersebut di atas maka secara teori semua kawasan darat habis terbagi menjadi sejumlah DAS. Suatu DAS terdiri atas dua bagian utama, yaitu daerah tadahan (catchment area) yang membentuk daerah hulu atau ”daerah kepala sungai” dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadahan. Daerah penyaluran air dapat dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah tengah dan daerah hilir.

Daerah tadahan merupakan daerah sumber air bagi DAS yang bersangkutan, sedangkan daerah penyaluran air berfungsi menyalurkan air tanah (excess water) dari sumber air ke daerah penampungan air, yang berada di sebelah bawah DAS. Daerah penampungan air dapat berupa danau atau laut. Dilihat dari segi hidrologi, DAS merupakan suatu kesatuan hidrologi yang bulat dan utuh. DAS menjadi bagian dari sistem darat.

2.            METODE

Watershed Modeling System merupakan sebuah aplikasi komputer berbasis data grid dimana di dalamnya terdapat aplikasi Gridded Surface Subsurface Hydrologic Analysis (GSSHA). GSSHA mampu menghitung komponen hidrologi baik di permukaan tanah maupun bawah permukaan, serta interaksi antar keduanya. Komponen permukaan tanah yaitu, distribusi hujan (presipitasi), volume air di permukaan tanah dan saluran setelah simulasi berakhir, evapotranspirasi potensial dan aktual, volume discharge, serta intersepsi. Komponen di bawah permukaan meliputi volume airtanah, volume air di zona tidak jenuh, serta imbuhan airtanah. Untuk interaksi antar permukaan dan bawah permukaan tanah, komponen yang dapat dihasilkan adalah infiltrasi, eksfiltrasi dan inflow ke saluran arah lateral.

Data yang dibutuhkan GSSHA adalah data yang sifatnya kontinu, baik untuk durasi yang pendek maupun untuk durasi waktu yang panjang. Selain itu, selama proses simulasi program akan menampilkan hasil perhitungan Evapotranspirasi potensial dan aktual, infiltrasi dan discharge sehingga sifatnya dinamis dengan time step yang kecil.

Penggunaan program komputer berbasis Gridded Surface Subsurface Hydrologic Analysis (GSSHA) digunakan sebagai instrumen untuk menganalisis data dan memperoleh hasil akhirnya. Dalam program komputer ini, data awal yang dikehendaki adalah topografi obyek penelitian. File topografi dalam bentuk format Digital Elevation Model (.dem).

Kontur topografi diperoleh dari SRTM (Shuttle Radar Topography Mission) dengan menggunakan aplikasi komputer Global Mapper.

Dalam tulisan kali ini akan dilakukan pemetaan DAS di wilayah Kota Gorontalo dan kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo yang dikenal sebagai DAS Limboto atau DAS Bone Bolango. Peta lokasi DAS  sebagai berikut :

das_limbotoGambar 1. Wilayah DAS yang akan dihitung ditandai oleh lingkaran.

peta_geo_gtoGambar 2. Peta Geologi DAS Bone Bolango

 

Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Koppen dan Schdmit-Ferguson, DAS Limboto mempunyai iklim yang bervariasi yaitu Afa, Ama dan Awa dengan curah hujan tahunan berkisar antara 1.722 mm s/d 2.722 mm, temperatur maksimum 37oC dan minimum 23oC selanjutnya, secara garis besar penggunaan lahan di DAS Limboto dapat dikelompokkan menjadi 11 kelompok yaitu sebagai berikut :

guna_lahan

Gambar 3. Tata Guna Lahan DAS Gorontalo

3.            HASIL

Selanjutnya proses mengambil data topografi dari server sebagai berikut :

global_mapper

Gambar 4. Ambil Data DEM Gorontalo dengan SRTM Worldwide Elevation Data. Isi West:122.90, East:123.40, North:0.0, South:o.45

Setelah data topografi diperoleh, hasilnya sebagai berikut :

data DEM DAS GorontaloGambar 5. Data DEM DAS Limboto

Hasil di atas diekspor menjadi data dem dengan ektensi file *.dem, yang selanjutnya data tersebut diolah dengan menggunakan aplikasi WMS 8. Berikut adalah hasil pengolahan  data *.dem yang diolah menjadi peta kontur ketinggian seperti terlihat pada gambar 6 berikut :

peta kontur tinggi

Gambar 6. Peta Kontur Ketinggian DAS Limboto dan sekitarnya

Gambar tersebut dibuat peta ketinggian dengan gradasi warna dimana semakin biru penampakan citra menandakan ketinggian tempat semakin tinggi. Sedangkan semakin merah penampakan citra berarti tempat tersebut adalah dataran rendah. Seperti terlihat pada gambar 7 di bawah :

kontur ketinggian

Gambar 7. Gradasi Warna Peta Ketinggian DAS Limboto

Aliran sungai Bolango terlihat daerah hulu bersumber di sekitar pegunungan Bolango kabupaten Bone Bolango ( DAS Limboto ) dan aliran bermuara di Laut Selatan Gorontalo. Dipilih titik – titik seperti di lingkaran putih sbb. :

dot batas DAS

Gambar 8. Penentuan Batas DAS dengan Menentukan Titik di hulu dan hilir (muara) DAS

Diperoleh hasil sebagai berikut :

Gambar 9. Batas DAS Titik di hulu dan hilir (muara) DAS Limboto

Untuk mengetahui karakteristik dari DAS dapat dilakukan pengaturan pada aplikasi WMS, dan dalam hal ini dilakukan setting untuk mengetahui luasan dari dari daerah aliran sungai, panjang DAS, kemiringan dari DAS, rata-rata elevasi DAS serta untuk mengetahui karakteristik lain juga dilakukan setting seperti rata-rata presipitasi di sekitar DAS dan nilai curve number-nya dan koefisien runoff-nya. Klik di hulu, percabangan, dan hilir sungai untuk mendefinisikan DAS beserta Aliran Sungai-nya.

Setting Karakteristik DAS

Gambar 9. Pengklasifikasian parameter DAS Limboto

Diperoleh hasil sebagai berikut :

data basin

Gambar 10. Hasil Pengklasifikasian parameter DAS Limboto

Selanjutnya didapat hitungan data-data basin (DAS)

data basin limboto

Gambar 11. Pemilihan parameter keluaran DAS Limboto

nilai data DAS LimbotoGambar 12. Nilai keluaran parameter- parameter DAS Limboto

Diperoleh nilai : CN                          = 0,0

P                             = 0,0 in

RC                           = 0,0

A (luas)                 = 218.82 km2

BS                           = 0.2621 m/m

AOFD                    = 1988,76 m

L                              = 21525,56 m

P                             = 113231 m

AVEL                      = 365,52 m

Dimana :

  1. CN adalah Curve Number
  2. P adalah Basin Average Precipitation yaitu rata – rata hujan di areal DAS.
  3. RC adalah Runoff Coefficient, yaitu koefisien limpasan.
  4. A adalah luas DAS.
  5. BS adalah Basin Slopes yaitu kelerangan dari DAS.
  6. AOFD adalah Average Overland Flow.
  7. L adalah Basin Length yaitu panjang dari DAS.
  8. P adalah Perimeter (Keliling Basah) yang merupakan bagian parameter penampang aliran yang bersentuhan dengan dasar dinding saluran.
  9. AVEL adalah Rata – rata ketinggian DAS.

Selanjutnya tampilkan data-data dalam bentuk grid :

grid nilai

Gambar 13. Gridded Setting Nilai keluaran parameter- parameter DAS Limboto

Dari gambar di bawah didapatkan informasi per grid sbb.:

griddedGambar 14. Gridded Value keluaran parameter- parameter DAS Limboto

4. ANALISIS

Dari hasil pengolah data DEM untuk untuk DAS Bone Bolango / Limboto didapatkan informasi bahwa luas dari daerah aliran sungai seluas 218.82 km2. DAS Bone Bolango / Limboto termasuk DAS yang terjal. Dimana dalam luasan tersebut terdapat beberapa sungai kecil yang bersumber dari bukit-bukit di sekitar Pegunungan Bone Bolango dan alirannya mengalir dan menyatu dengan sungai utama yang bermuara di Laut Selatan Gorontalo. Panjang DAS Bone Bolango  sekitar 21525,56 m atau 21,5256 km.

5.            KESIMPULAN

  1. CN adalah Curve Number, bernilai nol berarti software ini tidak bisa / belum bisa me-resolve kondisi relief permukaan dikarenakan belum adanya input data.
  2. P adalah Basin Average Precipitation yaitu rata – rata hujan di areal DAS. Bernilai nol mengindikasikan bahwa nilai P tidak di resolve oleh software dikarenakan belum adanya input data.
  3. RC adalah Runoff Coefficient, yaitu koefisien limpasan yang juga bernilai nol. dikarenakan belum adanya input data.
  4. A adalah luas DAS. Luas DAS Limboto didapatkan nilai 218.82 km2 .
  5. BS adalah Basin Slopes yaitu kelerangan dari DAS. Bernilai 0,2621 ( 26,21 % ) berarti kategori terjal.
  6. AOFD adalah Average Overland Flow. Nilai 1988, 76 m.
  7. L adalah Basin Length yaitu panjang dari DAS.
  8. P adalah Perimeter (Keliling Basah) yang merupakan bagian parameter penampang aliran yang bersentuhan dengan dasar dinding saluran. Bernilai panjang 113231 m atau 113,231 km.
  9. AVEL adalah Rata – rata ketinggian DAS. Rata – rata ketinggian DAS Limboto adalah 365,52 m.
  10. Dengan memasukkan input data yang terkait ( misal data hujan) maka akan diperoleh nilai unsur DAS yang diperlukan.
  11. Dengan model ini bisa diperoleh informasi data DAS yang diperlukan dengan data input yang terbatas yang ke depannya bisa digunakan sebagai decision support system terkait kejadian banjir maupun analisis hidrologi lainnya.

oooOOOooo

Posted in Teknik Kebumian | Tagged: | 1 Comment »

Analisis Kerentanan Terhadap Perubahan Iklim

Posted by suradigorontalo on 5 September 2010

Analisis Kerentanan Terhadap Bencana Banjir di Provinsi Gorontalo

1.  Pendahuluan

Terlepas apakah iklim sekarang ini sudah berubah atau baru akan berubah adalah pembahasan tersendiri di kala ada 2 ( dua ) kubu yang dengan kekuatannya masing- masing memiliki hujjah, kubu kontra mengatakan bahwa perubahan iklim belumlah terjadi, yang terjadi saat ini adalah fluktuasi iklim, namun kejadian- kejadian bencana kemeteorologian secara spasial maupun temporal cenderung meningkat bahkan ekstrim seperti yang sedang dialami China dengan korban banjir sudah mencapai 700 jiwa lebih meninggal.

Upaya adaptasi perubahan iklim tidak akan memperoleh hasil yang efektif jika tidak  diperhitungan mengenai seberapa besar perkiraan dampak yang ditimbulkan. Kita tidak tahu perbedaan tingkat kerentanan dampak di masing-masing wilayah. Untuk itu, diperlukan suatu peta yang memberikan informasi kerentanan wilayah terhadap dampak perubahan iklim yang akan terjadi di masa mendatang. Peta ini akan sangat mudah untuk dipahami oleh berbagai kalangan sehingga dapat menjadi referensi dalam mengupayakan adaptasi perubahan iklim baik dalam bentuk fisik maupun yang lainnya. Peta kerentanan dampak perubahan iklim ini diperoleh melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah memproyeksikan beberapa parameter yang memiliki sifat variable (berubah) terhadap waktu dengan menggunakan persamaan model tertentu. Setelah terbentuk peta-peta spasial dari data-data yang sudah terkumpul selanjutnya di tahap akhir adalah melakukan metode overlay (tumpang susun). Metode overlay ini dapat dilakukan dengan bantuan perangkat-perangkat lunak yang berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Dengan demikian, beberapa formula digunakan untuk memperoleh hasil akhir berupa peta kerentanan perubahan iklim.


Gambar 1. Metode Overlay (Susandi, et al,1999)

Hingga saat ini, kegiatan adaptasi difokuskan pada area-area yang dianggap rentan terhadap perubahan iklim yaitu daerah pantai, sumber daya air, pertanian, kesehatan manusia dan infrastruktur.

2.   Data dan Metodologi

Data yang digunakan untuk mengetahui sebaran spasial potensi hazard, dilakukan pengelompokan data di tiap-tiap kabupaten, yang akan diolah menggunakan perangkat lunak GIS kemudian ditentukan sebagai indeks hazard (bahaya), data-data tersebut yaitu :

  1. Data Jumlah Penduduk
  2. Data Land Use
  3. Data Curah Hujan
  4. Data Temperatur

    Kemudian sebagai indeks adaptive capacity, yaitu digunakan data :

  5. Tingkat Pendidikan
  6. Tingkat Kesehatan
  7. HDI

Indeks kerentanan ditentukan dengan menggunakan persamaan :

IK (Indeks Kerentanan) = IH (Hazard Indeks) – IA (Adaptive Indeks)


3. Kondisi Geografis Gorontalo

Sejak 16 Februari 2001 lalu, daerah ini resmi sudah menjadi provinsi menjadi provinsi termuda di negeri ini. Provinsi Gorontalo terletak di Pulau Sulawesi bagian Utara meliputi 1 kota dan 4 kabupaten, 46 kecamatan, 385 Desa dan 65 Kelurahan. Letak geografi berada di antara 121,23o – 123,43o Bujur Timur dan 0,19o – 1,15o Lintang Utara, mempunyai luas 12.215,44 Km2 yaitu Kota Gorontalo 64,80 Km2 (0.53 %), Kabupaten Gorontalo 3.354,67 Km2 (28,05 %), Kabupaten Boalemo 2.567,36 Km2 (18,04 %), Kabupaten Bone Bolango 1.984,31 Km2 (16,25%) dan Kabupaten Pohuwato 4.244,31Km2 (36,77%) dengan batas-batas wilayah :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Buol dan Toli Toli (Sulawesi Tengah dan Laut Sulawesi).
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Parigi Moutong (Sulawesi Tengah).
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara).
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Tomini.

Keunggulan posisi geografisnya sangat menguntungkan Gorontalo, yakni berada di poros pertumbuhan ekonomi, antara dua Kawasan Ekonomi Terpadu (Kapet) Batui (Sulawesi Tengah) dan Manado-Bitung (Sulawesi Utara).


Gambar 2. Peta Administratif Provinsi Gorontalo

3.1    Penduduk

Jumlah penduduk Provinsi Gorontalo tahun 2006 sebanyak 904.533 jiwa yang terdiri dari laki-laki 455.150 jiwa dan perempuan 449.383 jiwa. Dilihat dari sebarannya, jumlah penduduk terbesar berada di Kabupaten Gorontalo sebesar 415.675 jiwa, Kota Gorontalo 150.005 jiwa, kabupaten Boalemo 109.869 jiwa, Kabupaten Bone Bolango 122.832 jiwa dan Kabupaten Pohuwato 106.152 jiwa. Sedangkan dilihat dari tingkat kepadatan penduduk, Kota Gorontalo memiliki kepadatan penduduk paling tinggi yaitu 2.315 jiwa/km2. Diikuti Kabupaten Gorontalo 121 jiwa/km2 dan Kabupaten Bone Bolango 61 jiwa/km2, Kabupaten Boalemo 43 jiwa /km2, dan Kabupaten Pohuwato 25 jiwa/km2 .

Sedangkan Keluarga Miskin di Provinsi Gorontalo adalah sebanyak 293.520 jiwa (31,97%) dan tertinggi terdapat di Kabupaten Gorontalo (126.566 KKM / 43 % dari seluruh penduduk miskin yang ada di provinsi Gorontalo). Seleng-kapnya dapat dilihat pada gambar berikut ini :


Gambar 3. Perbandingan Jumlah Penduduk Miskin Gorontalo

3.2 Kondisi Iklim

Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Koppen dalam Schdmit dan Ferguson, Provinsi Gorontalo mempunyai iklim yang bervariasi yaitu Afa, Ama dan Awa dengan curah hujan tahunan berkisar antara 1.722 mm s/d 2.722 mm, temperatur maksimum 37oC dan minimum 23oC. Wilayah Provinsi Gorontalo memiliki pola hujan ekuatorial dimana puncak hujan terjadi 2 (dua) kali dalam setahun seperti ditunjukkan peta di bawah ini:


Gambar 4. Peta Pewilayahan Pola Hujan Gorontalo

3.3 Kondisi Topografi dan Tutupan Lahan

Permukaan tanah di Gorontalo sebagian besar adalah perbukitan. Oleh karenanya, Gorontalo memiliki banyak gunung dengan ketinggian yang berbeda. Gunung Tabongo yang terletak di Kabupaten Boalemo merupakan gunung yang tertinggi dengan ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut. Sedangkan gunung Litu-Litu yang terletak di Kabupaten Gorontalo adalah gunung yang terendah dengan ketinggian 884 dari permukaan laut. Keadaan topografi didominasi oleh kemiringan 15-30o (45-46%) dengan jenis tanah yang sering mengalami erosi. Kondisi dan struktur utama geologi berpotensi menimbulkan gerakan tektonik, menyebabkan rawan bencana alam seperti gempa bumi, erosi, abrasi, gelombang pasang, pendangkalan dan banjir. Seperti ditunjukkan gambar di bawah ini :


Gambar 5. Peta Tutupan Lahan Gorontalo

4. Hasil dan Analisis

Dari data yang telah dilakukan pengolahan terlihat pada gambar di bawah :



Gambar 6. Panel Kiri: Adaptiv Capacity. Panel Kanan: Indeks Komponen Hazard

Indeks kerentanan merupakan indeks yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pada daerah tersebut terjadi kerentanan akibat faktor dampak perubahan iklim. Dari pengolahan data wilayah Provinsi Gorontalo, terlihat di bawah ini :


Gambar 7. Peta Indeks Distribusi Kerentanan

Dari peta di atas terlihat wilayah Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo merupakan wilayah yang memilki tingkat kerentanan tertinggi. Sedangkan faktor hazard di kedua wilayah ini relative lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, seperti jumlah curah hujan yang lebih tinggi dan penggunaan tata guna lahan yang cukup besar namun yang tidak kalah besar adalah Peningkatan jumlah penduduk yang meningkat pesat dikarenakan kedua daerah ini merupakan pusat kegiatan industri dan pusat pemerintahan sehingga menjadi daerah tujuan migrasi penduduk. Kapasitas adaptasi pada wilayah ini, khususnya pada sektor pendidikan dan kesehatan memang relative tinggi dibandingkan dengan wilayah lain namun apabila dibandingkan dengan komponen hazard-nya masih rendah. Perlu diketahui bahwa bencana kemeteorologian yang sering melanda wilayah Gorontalo adalah bencana banjir yang biasanya terjadi pada akhir tahun hingga awal tahun tiap tahunnya. Pada waktu mendatang pada daerah ini tentu memiliki potensi terjadinya bencana banjir. Adaptasi yang dapat dilakukan seperti konservasi wilayah danau Limboto yang merupakan wilayah penampung air utama di wilayah tersebut juga pembangunan sistem drainase yang baik karena unsur curah hujan yang relative besar dan yang tidak kalah penting perlindungan wilayah hutan di daerah hulu yang menjadi cathment area.

Referensi : Diolah dari berbagai sumber,


Posted in Teknik Kebumian | Tagged: | Leave a Comment »

Sejarah Delphi

Posted by suradigorontalo on 16 March 2009


 


IDE Delphi 7

 

 

Sejarah Bahasa Pemrograman Delphi

 

Delphi…merupakan salah satu jenis bahasa pemrograman yang fleksibel penggunaannya untuk mengembangkan aplikasi program under Windows dengan tampilan yang smooth seperti pada Sistem Operasi Windows itu sendiri..

Mendengar kosakata Delphi mungkin orang sudah tidak asing dengan nama ini yang memang menggunakan kosakata bahasa Yunani. Konon dalam sejarah mitologi Yunani, Delphi adalah kuil yang dibangun untuk menyembah Dewa Apollo, salah satu Dewa yang disegani oleh orang-orang Yunani selain Dewa-Dewa lain seperti Jupiter, Titan dan lain sebagainya.

Borland sebagai pengembang perangkat lunak yang sudah ada sejak era 1980’an menggunakan ikon dan nama Delphi sebagai salah satu perangkat lunak pembantu pemrograman untuk membuat program yang sudah mengarah ke Pemrograman Yang Berorientasi pada Objek atau dikenal dengan istilah OOP (Object Oriented Programming).

Semenjak zaman produk-produk “turbo” dengan Turbo Pascal, Turbo/Borland C/C++, Turbo Assembler
belasan tahun silam hingga RAD Tool Delphi, C++ Builder saat ini. Kesemua jajaran produk borland tersebut pernah berjaya sebagai produk-produk unggulan di masanya.

 

Perjalanan Panjang Delphi

 

Mengenal Delphi berarti kita harus melakukan perjalanan ulang (flash-back), dimana Delphi sendiri sudah melalui perjalanan panjang nan berliku-liku dan ujian dalam sejarahnya hingga dapat hadir dan dipakai hingga saat ini.

Pertama, dimulai dengan ide brilian Prof. Niclaus Wirth yang mengemukakan paparan tentang Struktur Data dan Algoritma (Algorthm and Data Structure). Prof. Niklaus Wirth menerjemahkan paparan ini yang kemudian dikristalisasi ke dalam bahasa yang populer dan digunakan pertama kalinya sebagai bahasa yang berorientasi pada hal-hal yang Science dan Ilmiah yaitu Pascal. Pascal sendiri kemudian distandarisasi ke dalam ANSI PASCAL (Pascal umum) oleh badan standarisasi Amerika Serikat (ANSI).

Kemudian, 20 Nopember 1983, Borland melakukan riset untuk menerjemahkan ide dari kristalisasi ANSI Pascal (Pascal yang distandarisasi) yang kemudian menelurkan kompiler Pascal ke dalam pengembangan perangkat lunaknya yaitu Turbo Pascal 1.0. Turbo Pascal 1.0 berjalan pada sistem operasi PC/MS DOS dengan keterabatasan memory yang saat itu bisa berjalan pada ukuran 1 Mbyte saja.

Pada 17 April 1984, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal 1.0 menjadi Turbo Pascal 2.0.

Pada 17 September 1986, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal 2.0 menjadi Turbo Pascal 3.0.

Pada 20 Nopember 1987, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal 3.0 menjadi Turbo Pascal 4.0

Pada 24 Agustus 1988, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal 4.0 menjadi Turbo Pascal 5.0

Pada 2 Mei 1989, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal 5.0 menjadi Turbo Pascal 5.5

Pada 23 Oktober 1990, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal 5.5 menjadi Turbo Pascal 6.0

Pada 13 Pebruari 1991, Borland melakukan migrasi perangkat lunaknya ke dalam platform sistem operasi Microsoft Windows dengan menelurkan produk Turbo Pascal for Windows 1.0.

Pada 8 Juni 1992, Borland merevisi ulang perangkat lunak Turbo Pascal for Windows 1.0 menjadi Turbo Pascal for Windows 1.5

Pada 27 Oktober 1992, Borland melakukan revitalisasi Turbo Pascal 6.0 dan mengarahkan platform perangkat lunaknya menuju pemrograman berorientasi pada objek dengan menelurkan produk Borland Pascal 7.0 (With Objects).

Pada 14 Pebruari 1995, bertepatan dengan hari Valentine, untuk pertama kalinya dalam sejarah Borland menelurkan produk terbarunya, yang merupakan gabungan pengembangan Turbo Pascal for Windows 1.5 dan Borland Pascal 7.0 (With Objects) dengan menerlurkan Borland Delphi for Windows 95 atau Borland Delphi 1.0. Delphi versi ini berjalan pada Windows 3.1 atau Windows 16 bit.

Pada 10 Pebruari 1996, setahun setelah kelahiran Delphi 1.0, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunak ini dan menelurkan produk Borland Delphi 2.0. Delphi versi ini berjalan pada Windows 95 atau Delphi 32 bit.

Tanggal 5 Agustus 1997, Borland kembali merevisi ulang Delphi 2.0 dan menelurkan produk Borland Delphi 3.0. Delphi versi ini berjalan pada Windows 95 ke atas dengan tambahan fitu rinternet atau web.

Pada 17 Juni 1998, Borland kembali merevisi ulang Delphi 3.0 dan menelurkan produk Borland Delphi 4.0.

Pada 10 Agustus 1999, Borland kembali merevisi ulang Delphi 4.0 dan menelurkan produk Borland Delphi 5.0.

Pada 21 Mei 2001, Borland kembali merevisi ulang Delphi 5.0 dan menelurkan produk Borland Delphi 6.0.

Pada 9 Agustus 2002, Borland kembali merevisi ulang Delphi 6.0 dan menelurkan produk Borland Delphi 7.0.

Pada 22 Desember 2003 bertepatan dengan The Mother Day alias Hari Ibu Nasional, Borland melakukan migrasi untuk memindahkan platform Delphi ke arah pemrograman .NeT (dot NET) dengan menelurkan produk Borland Delphi 8.0 for .NET.

Pada 12 Oktober 2004, Borland menggabungkan pengembangan perangkat lunak C# dan Delphi ke dalam satu kendali Integrated Develompment and Environment (IDE) dengan menelurkan produk Borland Delphi 2005.

Pada 10 Oktober 2005, Borland kembali merevisi ulang perangkat lunakn Delphi 2005 ke dalam perangkat lunak baru Borland Delphi Studio 2006.

Semua info sejarah ini diambil dari History of Delphi.

 

Terimakasih. Salam.

Posted in Program | Tagged: | Leave a Comment »

Pelatihan Talent Scouting dan Pelatihan Task Force Penulis Kehumasan dan Diseminasi Informasi BMKG

Posted by suradigorontalo on 19 April 2017

Tim Ahli dari InstitutPenulis.id bekerja sama dengan BMKG melakukan pelatihan terkait teknik penulisan kepada 30 pegawai di lingkungan BMKG. Dimulai dari “Pengantar Mengenai Tulis-Menulis” hingga “Kiat Menghantam Hoax dengan Bom Blogging” dikupas tuntas dalam acara Pelatihan Talent Scouting dan Pelatihan Task Force Penulis Kehumasan dan Diseminasi Informasi BMKG.

Pelatihan ini digagas salah satunya sebagai counter balance atas semakin merebaknya berita yang berbentuk isu yang meresahkan masyarakat belakangan ini dimana sebagi contoh terbaru yang tersebar luas ialah Hoax Equinox.

Pelatihan ini dimulai sesi pertama oleh Pak Bambang Trim, seorang penulis yang telah menelorkan 100 lebih buku, berlangsung tanggal 17 dan akan ditutup pada hari Kamis, 20 April 2017 di Hotel Ibis Senen, Jakarta Pusat.

Pada hari Selasa, materi terkait Kiat Menghantam Hoax dengan Bom Blogging disampaikan secara menarik oleh Pak Anang YB.

Pak Agoeng Widyatmoko, di sesi selanjutnya juga tidak kalah menariknya. Beliau  memahamkan para peserta terkait dengan makhluk bernama “digital writing” dan juga menyusun karya tulis yang mudah dan menyenangkan. Sesi ini sangat interaktif dan praktis karena peserta ‘dipaksa’ untuk menulis cepat speed writing dengan batasan waktu 10 menit. Kemudian peserta membacakan hasilnya.

SAM_0310.JPG

Beliau juga memberikan masukan terhadap alamat situs BMKG yang kalau dibandingkan dengan Unilever yang memiliki produk dari kecap hingga sabun tapi mampu memisahkan produk-produknya sesuai persona-nya. Bisa juga dengan membuat mini-website yang terhubung dengan portal utamanya. Masukan beliau bisa dilihat 3 menit video di sini:

Capture

Akhirnya, harapan besar dari pelatihan kehumasan ini semoga tercipta pasukan-pasukan penulis BMKG yang aktif dan handal sehingga jangkauan dan ragam informasi BMKG semakin luas termanfaatkan masyarakat seluas- luasnya.

Posted in Penunjang | Leave a Comment »

Applications for Australia Awards Scholarships are Now Open – Australian Embassy

Posted by suradigorontalo on 1 February 2014

http://www.indonesia.embassy.gov.au/jakt/MR14_002.html

Posted from WordPress for Android

Posted in Pribadi | Leave a Comment »

The relative dangers of drugs: What the science says

Posted by suradigorontalo on 13 October 2013

LifeMusicFun! | Love and Play EVERY Day!

The relative dangers of drugs: What the science says

Drug Chart

The relative dangers of drugs- What the science says

Photo by h.koppdelaney

Humans indulge in activities that alter both the content and the experience of their own consciousness. Drugs are a means for achieving a number of particular, often recreational, changes in conscious experience. However, drugs are also a large contributor to, and facilitator of, human suffering and health problems. The best health advice anyone can give to most people most of the time regarding recreational drug use is this: “Do not use drugs”. Many people however, including me, do not find this advice particularly attractive, or even sensible. Assuming that a person wants to enjoy the mind-altering effects of psychoactive substances, two questions follows: which drugs are dangerous to use? And, more importantly – how can one know which drugs are more dangerous than others? The answer to both questions, of course, can be found through the illuminating lens…

View original post 1,279 more words

Posted in Pribadi | 3 Comments »

Tenant and Landlord

Posted by suradigorontalo on 13 September 2013

MBC Written

“Who goes there?” my landlord questioned playfully, hiding what was most likely minor annoyance at being interrupted. It was ten o’clock at night on a Tuesday and as he stood in the door I could faintly hear the TV from upstairs.

“I’m sorry, Mister B!” I replied, feeling like a dumb child. “I seemed to have locked myself out!” And in almost the same breath: “Also, the garage door is jammed.”

He then hung his head, feigning a more annoyed response with a sigh that bore both real and comic distress; a reaction that came with the temperance that only a patient father of three could have mastered, imaginably through much practice.

“Let’s go take a look”, he said, or something to that effect, and then crossed the threshold of the relatively clean doorway onto the porch in ankle socks soon to be sullied by the outer elements. The wearer…

View original post 726 more words

Posted in Pribadi | Leave a Comment »

Dissecting a Climate Change Calamity

Posted by suradigorontalo on 18 August 2013

Inform The Pundits!

How does an “unprecendented” climate change catastrophe happen? Let’s see…

Three weeks ago, 7/23/2013, livescience.com shocked the world by reporting that a lake formed at the North Pole.It was in a small 214-word news brief.

The next day Canada.com – Canada’s largest English language newspaper service – picked up on the story. They took it to the next level. They added a “stunning” before/after display and a time-lapse video showing the “arctic winter turning to summer”.

Within two days it went viral. CBS News, MS-NBC, USA Today, Fox News, The Huffington Post, The Atlantic Wire and the UK’s Sky News and Orange News all picked up the story.
Even The Colbert Report got in on the act.

Each spun their version a little different, pinning it on global warming without validation.

Media Made Catastrophe

The summer ice is melting away at unprecedented rates…

View original post 655 more words

Posted in Pribadi | Leave a Comment »

Hari Pertama

Posted by suradigorontalo on 15 July 2013

image

image

Hari ini, Senin 15 Juli 2013, adalah hari pertama sy mengikuti Pre-Departure Training penerima beasiswa AAS (Australian Awards Scholarships) untuk masa 3 bulan (3 monthers).
To be continued for the next update…

Dikirim dari WordPress untuk HP Android Suradigorontalo

Posted in Pribadi | Leave a Comment »

SMPK Manual di Jambi

Posted by suradigorontalo on 10 July 2013

Read the rest of this entry »

Posted in ClimateMinded | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: